<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Silaturrahim</title>
	<atom:link href="http://silaturrahim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silaturrahim.wordpress.com</link>
	<description>Media Informasi &#38; Diskusi Antar Ummat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jan 2007 07:02:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='silaturrahim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Silaturrahim</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://silaturrahim.wordpress.com/osd.xml" title="Silaturrahim" />
	<atom:link rel='hub' href='http://silaturrahim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menikmati Kritik dan Celaan</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menikmati-kritik-dan-celaan/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menikmati-kritik-dan-celaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:21:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menikmati-kritik-dan-celaan/</guid>
		<description><![CDATA[Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=132&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejernihan dan kekotoran hati seseorang akan tampak jelas tatkala dirinya ditimpa kritik, celaan, atau penghinaan orang lain. Bagi orang yang lemah akal dan imannya, niscaya akan mudah goyah dan resah. Ia akan sibuk menganiaya diri sendiri dengan memboroskan waktu untuk memikirkan kemungkinan melakukan pembalasan. Mungkin dengan cara-cara mengorek-ngorek pula aib lawannya tersebut atau mencari dalih-dalih untuk membela diri, yang ternyata ujung dari perbuatannya tersebut hanya akan membuat dirinya semakin tenggelam dalam kesengsaraan batin dan kegelisahan.</p>
<p>            Persis seperti orang yang sedang duduk di sebuah kursi sementara di bawahnya ada seekor ular berbisa yang siap mematuk kakinya. Tiba-tiba datang beberapa orang yang memberitahukan bahaya yang mengancam dirinya itu. Yang seorang menyampaikannya dengan cara halus, sedangkan yang lainnya dengan cara kasar. Namun, apa yang terjadi? Setelah ia mendengar pemberitahuan itu, diambilnya sebuah pemukul, lalu dipukulkannya, bukan kepada ular namun kepada orang-orang yang memberitahukan adanya bahaya tersebut.</p>
<p>            Lain halnya dengan orang yang memiliki kejernihan hati dan ketinggian akhlak. Ketika datang badai kritik, celaan, serta penghinaan seberat atau sedahsyat apapun, dia tetap tegar, tak goyah sedikit pun. Malah ia justru dapat menikmati karena yakin betul bahwa semua musibah yang menimpanya tersebut semata-mata terjadi dengan seijin Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Allah tahu persis segala aib dan cela hamba-Nya dan Dia berkenan memberitahunya dengan cara apa saja dan melalui apa saja yang dikehendaki-Nya. Terkadang terbentuk nasehat yang halus, adakalanya lewat obrolan dan guyonan seorang teman, bahkan tak jarang berupa cacian teramat pedas dan menyakitkan. Ia pun bisa muncul melalui lisan seorang guru, ulama, orang tua, sahabat, adik, musuh, atau siapa saja. Terserah Allah.</p>
<p>            Jadi, kenapa kita harus merepotkan diri membalas orang-orang yang menjadi jalan keuntungan bagi kita? Padahal seharusnya kita bersyukur dengan sebesar-besar syukur karena tanpa kita bayar atau kita gaji mereka sudi meluangkan waktu memberitahu segala kejelekkan dan aib yang mengancam amal-amal shaleh kita di akhirat kelak.</p>
<p>            Karenanya, jangan aneh jika kita saksikan orang-orang mulia dan ulama yang shaleh ketika dihina dan dicaci, sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit hati dan keresahan. Sebaliknya, mereka malahan bersikap penuh dengan kemuliaan, memaafkan dan bahkan mengirimkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas pemberitahuan ihwal aib yang justru tidak sempat terlihat oleh dirinya sendiri, tetapi dengan penuh kesungguhan telah disampaikan oleh orang-orang yang tidak menyukainya.</p>
<p>            Sahabat, bagi kita yang berlumur dosa ini, haruslah senantiasa waspada terhadap pemberitahuan dari Allah yang setiap saat bisa datang dengan berbagai bentuk.</p>
<p>            Ketahuilah, ada tiga bentuk sikap orang yang menyampaikan kritik. Pertama, kritiknya benar dan caranya pun benar. Kedua, kritiknya benar, tetapi caranya menyakitkan. Dan ketiga, kritiknya tidak benar dan caranya pun menyakitkan.</p>
<p>            Bentuk kritik yang manapun datang kepada kita, semuanya menguntungkan. Sama sekali tidak menjatuhkan kemuliaan kita dihadapan siapapun, sekiranya sikap kita dalam menghadapinya penuh dengan kemuliaan sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Karena, sesungguhnya kemuliaan dan keridhaan-Nyalah yang menjadi penentu itu.</p>
<p>            Allah SWT berfirman, &#8220;Dan janganlah engkau berduka cita karena perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.&#8221; (QS. Yunus [10] : 65)</p>
<p>            Ingatlah, walaupun bergabung jin dan manusia menghina kita, kalau Allah menghendaki kemuliaan kepada diri kita, maka tidak akan membuat diri kita menjadi jatuh ke lembah kehinaan. Apalah artinya kekuatan sang mahluk dibandingkan Khalik-nya? Manusia memang sering lupa bahwa qudrah dan iradah Allah itu berada di atas segalanya. Sehingga menjadi sombong dan takabur, seakan-akan dunia dan isinya ini berada dalam genggaman tangannya. Naudzubillaah!!!</p>
<p>            Padahal, Allah Azza wa Jalla telah berfirman, &#8220;Katakanlah, Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang Kau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Kau kehendaki. Engkau muliakan yang Kau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Kau Kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.&#8221; (QS. Ali ‘Imran [3] : 26)***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=132&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menikmati-kritik-dan-celaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaga Pandangan</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menjaga-pandangan/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menjaga-pandangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menjaga-pandangan/</guid>
		<description><![CDATA[Satu hal yang hendaknya dicamkan benar-benar oleh setiap hamba Allah adalah bahwa Allah Azza wa Jalla itu ghafururrahiim. Dia adalah satu-satunya Zat yang mempunyai samudera ampunan dan kasih sayang yang Mahaluas. Tak ada dosa sebesar apapun yang tidak tenggelam dalam samudera ampunan dan rahmat kasih sayang-Nya, sejauh tidak menyekutukan-Nya. Pantaslah Syaikh Ibnu Athoillah di dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=131&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu hal yang hendaknya dicamkan benar-benar oleh setiap hamba Allah adalah bahwa Allah Azza wa Jalla itu ghafururrahiim. Dia adalah satu-satunya Zat yang mempunyai samudera ampunan dan kasih sayang yang Mahaluas. Tak ada dosa sebesar apapun yang tidak tenggelam dalam samudera ampunan dan rahmat kasih sayang-Nya, sejauh tidak menyekutukan-Nya.</p>
<p>            Pantaslah Syaikh Ibnu Athoillah di dalam kitabnya yang terkenal, Al Hikam, menasehatkan, &#8220;Jika terlanjur berbuat dosa maka janganlah hal itu sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istiqamah kepada Tuhanmu. Sebab, kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa terakhir yang telah ditaqdirkan bagimu.&#8221;</p>
<p>            Hati yang sakit, atau bahkan mati, disebabkan oleh noktah-noktah dosa yang bertambah dari waktu ke waktu karena amal perbuatan yang kurang terpelihara, sehingga menjadikannya hitam legam dan berkarat. Akan tetapi, bagaimana pun kondisi hati kita saat ini, tak tertutup peluang untuk sembuh, sehingga menjadi hati yang sehat sekiranya kita berjuang sekuat-kuatnya untuk mengobatinya. Ada empat virus perusak hati yang harus kita waspadai agar hati yang sakit atau mati dapat disembuhkan. Sementara hati yang sudah sehat pun dapat terawat dan terpelihara kebeningannya. Mudah-mudahan dengan mewaspadai keempat hal tersebut Allah Azza wa Jalla menolong kita.</p>
<p>            Salah satunya yang membuat hati ini semakin membusuk, kotor dan keras membatu adalah tidak pandainya kita menahan pandangan. Barang siapa yang ketika di dunia ini tidak mahir menahan pandangan, gemar melihat hal-hal yang diharamkan Allah, maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih. Umar bin Khattab pernah berkata, &#8220;Lebih baik aku berjalan di belakang singa daripada berjalan di belakang wanita.&#8221; Orang-orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal-hal yang tidak hak bagi dirinya, tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat iman pun akan semakin hilang manisnya.</p>
<p>            Sebenarnya bukan hanya mengumbar pandangan terhadap lawan jenisnya, melainkan juga orang yang matanya selalu melihat dunia ini. Melihat sesuatu yang tidak ia miliki : rumah orang lain yang lebih mewah, mobil orang lain yang lebih bagus, atau uang orang lain yang lebih banyak. Hatinya lebih bergejolak memikirkan hal-hal yang tidak dimilikinya daripada menikmati apa-apa yang dimilikinya..</p>
<p>            Karenanya kunci bagi orang yang memiliki hati yang bening adalah tundukkan pandangan! Mendapati lawan jenis yang bukan muhrim, cepat-cepatlah tundukkan pandangan. Kalau melihat dunia jangan sekali-kali melihat ke atas. Akan capek kita jadinya, karena rizki yang telah menjadi hak kita tidak akan kita dapatkan. Lebih baik lihatlah ke bawah. Tengoklah orang yang lebih fakir dan lebih menderita daripada kita. Lihatlah orang yang jauh lebih sederhana hidupnya. Semakin sering melihat ke bawah, subhanallah, hati ini akan semakin dipenuhi oleh rasa syukur dibanding dengan orang yang suka menengadah ke atas.</p>
<p>            Kalaupun kita akan melihat ke atas, tancapkan pandangan kita ke yang Mahaatas sekaligus, yakni kepada Zat Penguasa alam semesta. Allahu Akbar! Lihatlah Kemahakuasaan-Nya, Allah Mahakaya dan tidak pernah berkurang kekayaan-Nya walaupun selalu kita minta sampai akhir hayat. Orang yang hanya melihat ke atas dalam urusan dunia, hatinya akan cepat kotor dan hancur. Sebaliknya, kalau tunduk dalam melihat dunia dan tengadah dalam melihat keagungan serta kebesaran Allah, maka tidak bisa tidak kita akan menjadi orang yang memiliki hati bersih yang selamat.</p>
<p>            Buya Hamka (alm) pernah berkata, &#8220;Mengapa manusia bersikap bodoh? Tidakkah engkau tatap langit yang biru dengan awan yang berarak seputih kapas? Atau engkau turuni ke lembah sehingga akan kau dapatkan air yang bening. Atau engkau bangun di malam hari, kau saksikan bintang gemintang bertaburan di langit biru dan rembulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau engkau dengarkan suara jangkrik dan katak saling bersahutan. Sekiranya seseorang amat gemar memandang keindahan, amat senang mendengar keindahan, niscaya hatinya akan terbebas dari perbuatan keji. Karena sesungguhnya keji itu buruk, sedangkan yang buruk itu tidak akan pernah bersatu dengan keindahan.&#8221;</p>
<p>            Berbahagialah orang yang senang melihat kebaikan orang lain. Tatkala mendapatkan seseorang tidak baik kelakuannya, ia segera mahfum bahwa manusia itu bukanlah malaikat. Di balik segala kekurangan yang dimilikinya pasti ada kebaikannya. Perhatikanlah kebaikannya itu sehingga akan tumbuh rasa kasih sayang di hati. Mendengar seseorang selalu berbicara buruk dan menyakitkan, segera mahfum. Siapa tahu sekarang ia berbicara buruk, namun besok lusa berubah menjadi berbicara baik. Karenanya, dengan mendengarkan kata-kata yang baik-baiknya saja, niscaya akan tumbuh rasa kasih sayang di hati.</p>
<p>            Jalaluddin Rumi pernah berkata, &#8220;Orang yang begitu senang dan nikmat melihat dan menyebut-nyebut kebaikan orang lain bagaikan hidup di sebuah taman yang indah. Ke sini anggrek, ke sana melati. Pokoknya kemana saja mata memandang yang nampak adalah bebungaan yang indah dan harum mewangi. Dimana-mana yang terlihat hanya keindahan. Sebaliknya, orang yang gemar melihat aib dan kejelekkan orang lain, pikirannya hanya diselimuti dengan aneka keburukan sementara hatinya hanya dikepung dengan prasangka-prasangka buruk. Karenanya, kemana pun matanya melihat, yang tampak adalah ular, kalajengking, duri, dan sebagainya. Dimana saja ia berada senantiasa tidak akan pernah dapat menikmati indahnya hidup ini.&#8221;</p>
<p>            Sungguh berbahagialah orang yang pandai memelihara pandangannya karena ia akan senantiasa merasakan nikmatnya kebeningan hati. Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati hamba-Nya. Sama sekali tidak sulit baginya untuk menolong siapapun yang merindukan hati yang bersih dan bening sekiranya ia berikhtiar sungguh-sungguh. Allahu’alaM.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/131/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/131/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=131&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menjaga-pandangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Do&#8217;a Tidak Terkabul?</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengapa-doa-tidak-terkabul/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengapa-doa-tidak-terkabul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengapa-doa-tidak-terkabul/</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa Do&#8217;a Tidak Diijabah K.H. Abdullah Gymnastiar &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=130&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa Do&#8217;a Tidak Diijabah<br />
K.H. Abdullah Gymnastiar</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).</p>
<p>Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :</p>
<p>Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu. </p>
<p>Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu? </p>
<p>Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan. </p>
<p>Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya. </p>
<p>Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu? </p>
<p>Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya. </p>
<p>Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya. </p>
<p>Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia. </p>
<p>Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.</p>
<p>***</p>
<p>Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki dating kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”</p>
<p>“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.</p>
<p>&#8220;Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?&#8221; tanya Imam Ja&#8217;far.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawab orang itu.</p>
<p>&#8220;Lalu ayat yang kedua apa?&#8221; Tanya Imam Ja&#8217;far lagi.</p>
<p>&#8220;Ayat yang kedua berbunyi &#8220;Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin&#8221; (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>&#8220;Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?&#8221; tanya Imam Ja&#8217;far lagi.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; jawabnya.</p>
<p>&#8220;Lalu mengapa?&#8221; Tanya imam Ja&#8217;far.</p>
<p>&#8220;Aku tidak tahu,&#8221; jawabnya.</p>
<p>Imam Ja&#8217;far kemudian menjelaskan, &#8220;Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo&#8217;a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do&#8217;amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo&#8217;a kepada Allah, maka berdo&#8217;alah kepada-Nya dengan Jihad Do&#8217;a. Tentu Alah akan menjawab do&#8217;amu walaupun engkau orang yang berdosa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dimaksud Jihad Do&#8217;a?&#8221; sela orang itu.</p>
<p>Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.</p>
<p>Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.</p>
<p>Kemudian bacalah, &#8220;Ya Allah, aku memnita maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau rdhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do&#8217;amu,&#8221; papar Imam Ja&#8217;far.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/130/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/130/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=130&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengapa-doa-tidak-terkabul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggapai Mahligai Cinta</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-mahligai-cinta/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-mahligai-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-mahligai-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang pernikahan banyak yang menyesal. Menyesal kalau tahu begini nikmat kenapa tidak dari dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah yang lima harus dihapal dan wajib lengkap kesemuanya. Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria yang harus diperhatikan. Bagaimana jika kita belum punya biaya? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=129&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang pernikahan banyak yang menyesal.<br />
Menyesal kalau tahu begini nikmat kenapa tidak dari<br />
dulu. Menyesal ternyata banyak deritanya. Menikah itu<br />
tidak mudah, yang mudah itu ijab kabulnya. Rukun nikah<br />
yang lima harus dihapal dan wajib lengkap kesemuanya.<br />
Begitu pula dengan syarat wajib nikah pada pria yang<br />
harus diperhatikan. Bagaimana jika kita belum punya<br />
biaya? Harus diyakini bahwa tiap orang itu sudah ada<br />
rezekinya. Menikah itu menggabungkan dua rezeki,<br />
rezeki wanita dan laki-laki bertemu, masalahnya adalah<br />
apakah rezeki itu diambil dengan cara yang barokah<br />
atau tidak. Allah tidak menciptakan manusia dengan<br />
rasa lapar tanpa diberi makanan. Allah menghidupkan<br />
manusia untuk beribadah yang tentu saja memerlukan<br />
tenaga, mustahil Allah tidak memberi rezeki kepada<br />
kita. </p>
<p>Biaya pernikahan bukanlah perkara mahal, yang penting<br />
ada. Maka kalau sudah darurat bahkan mengutang untuk<br />
menikah diperbolehkan daripada mendekati zina. Kalau<br />
sudah menikah setelah ijab kabul, jangan jadi riya<br />
dengan mengadakan resepsi yang mewah. Hal ini tidak<br />
akan menjadi barokah. Misalnya dalam mengundang, hanya<br />
menyertakan orang kaya saja, orang miskin tidak<br />
diundang. Bahkan Rasulullah melarang mengundang dengan<br />
membeda-bedakan status. Dalam mengadakan resepsi<br />
jangan sampai mengharapkan balasan income yang<br />
didapat. </p>
<p>Masalah mas kawin yang paling bagus adalah emas dan<br />
uang mahar yang paling bagus adalah uang. Berilah<br />
wanita sebanyak yang kita mampu, jangan hanya berkutat<br />
dengan seperangkat alat sholat saja. Rasulullah lebih<br />
mengutamakan emas dan uang dan inilah hak wanita. Awal<br />
nikah jangan membayangkan punya rumah yang bagus. Maka<br />
perkataan terbaik suami kepada istrinya adalah<br />
menasehati istri agar dekat dengan Allah. Jika istri<br />
dekat dengan Allah maka ia akan dijamin oleh Allah<br />
mudah-mudahan lewat kita.</p>
<p>Tiga rumus yang harus selalu diingat terdapat dalam<br />
surah Al-Asyr. Setiap bertambah hari, bertambah umur,<br />
kita itu merugi kecuali tiga golongan kelompok yang<br />
beruntung. Golongan pertama adalah orang yang selalu<br />
berpikir keras bagaimana supaya keyakinan dia kepada<br />
Allah meningkat. Sebab semua kebahagiaan dan kemuliaan<br />
itu berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kepada<br />
Allah. Tidak ada orang ikhlas kecuali yakin kepada<br />
Allah. Tidak ada sabar kecuali kenal kepada Allah.<br />
Tidak ada orng yang zuhud kepada dunia kecuali orang<br />
yang tahu kekayaan Allah. Tidak ada orang yang tawadhu<br />
kecuali orang yang tahu kehebatan Allah. Makin akrab<br />
dan kenal dengan Allah semua dipandang kecil. Setiap<br />
hari dalam hidup kita seharusnya dipikirkan bagaimana<br />
kita dekat dengan Allah. </p>
<p>Kalau Allah sudah mencintai mahluk segala urusan akan<br />
beres. Salah satu bukti  seperseratus sifat pemurah<br />
Allah yang disebarkan kepada seluruh mahlukNya bisa<br />
dilihat sikap seorang ibu yang melahirkan seorang anak<br />
Kesakitan waktu melahirkan, hamil sembilan bulan tanpa<br />
mengeluh yang belum tentu anak tersebut akan membalas<br />
budinya. Tidak tidur ketika anaknya sakit, mengurus<br />
anak dari mulai TK sampai SMA. Memikirkan biaya<br />
kuliah. Mulai nikah dibiayai sampai punya anak bahkan<br />
juga diterima tinggal di rumah sang ibu. Tetapi<br />
kerelaannya masih saja terpancar. Itulah seperseratus<br />
sifat Allah.</p>
<p>Selalu komitmen mau kemana rumah tangga ini akan<br />
dibawa. Mungkin sang ayah atau ibu yang meninggal<br />
lebih dulu yang penting keluarga ini akan kumpul di<br />
surga. Apapun yang ada dirumah harus menjadi jalan<br />
mendekat kepada Allah. Beli barang apapun harus barang<br />
yang disukai Allah. Supaya rumah kita menjadi rumah<br />
yang disukai Allah. Boleh punya barang yang bagus<br />
tanpa diwarnai dengan takabur. Bukan perkara mahal<br />
atau murah, bagus atau tidak tetapi apakah bisa<br />
dipertanggungjawabkan disisi Allah atau tidak.<br />
Bahkan dalam mendengar lagu yang disukai Allah siapa<br />
tahu  kita dipanggil Allah ketika mendengar lagu.<br />
Rumah kita harus Allah oriented. Kaligrafi dengan<br />
tulisan Allah. Kita senang melihat rumah mewah dan<br />
islami. Jadikan semua harta jadi dakwah mulai mobil<br />
sampai rumah. Tiap punya uang beli buku, buat<br />
perpustakaan di rumah untuk tamu yang berkunjung<br />
membaca dan menambah ilmu. Jangan memberi hadiah<br />
lebaran hanya makanan, coba memberi buku, kaset dan<br />
bacaan lain yang berguna.</p>
<p>Jangan rewel memikirkan kebutuhan kita, itu semua<br />
tidak akan kemana-mana. Allah tahu kebutuhan kita<br />
daripada kita sendiri. Allah menciptakan usus dengan<br />
disain untuk lapar tidak mungkin tidak diberi makan.<br />
Allah menyuruh kita menutup aurat, tidak mungkin tidak<br />
diberi pakaian. Apa yang kita pikirkan Allah sudah<br />
mengetahui apa yang kita pikirkan. Yang harus kita<br />
pikirkan adalah bagaimana dekat dengan Allah,<br />
selanjutnya Allah yang akan mengurusnya. Kita<br />
cenderung untuk memikirkan yang tidak disuruh oleh<br />
Allah bukan yang disuruhNya.<br />
Kalau hubungan kita dengan Allah bagus semua akan<br />
beres. Barang siapa yang terus dekat dengan Allah,<br />
akan diberi jalan keluar setiap urusannya. Dan dijamin<br />
dengan rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga. Dan<br />
barang siapa hatinya yakin Allah yang punya segalanya,<br />
akan dicukupkan segala kebutuhannya. Jadi bukan dunia<br />
ini yang menjadi masalah tetapi hubungan kita dengan<br />
Allah-lah masalahnya.</p>
<p>Golongan kedua adalah rumah tangga yang akan rugi<br />
adalah rumah tangga yang kurang amal. Jangan capai<br />
memikirkan apa yang kita inginkan, tapi pikirkan apa<br />
yang bisa kita lakukan. Pikiran kita harusnya hanya<br />
memikirkan dua hal yakni bagaimana hati ini bisa<br />
bersih, tulus, dan bening sehingga melakukan apapun<br />
ikhlas dan yang kedua teruslah tingkatkan kekuatan<br />
untuk terus berbuat. Pikiran itu bukan mengacu pada<br />
mencari uang tetapi bagaimana menyedekahkan uang<br />
tersebut, menolong, dan membahagiakan orang dengan<br />
senyum. Sehingga dimanapun kita berada bagai pancaran<br />
matahari yang menerangi yang gelap, menuai bibit,<br />
menyemarakkan suasana. Sesudah itu serahkan kepada<br />
Allah. Setiap kita memungut sampah demi Allah itu akan<br />
dibalas oleh Allah.</p>
<p>Rekan-rekan Sekalian,<br />
Mari kita ubah paradigmanya. Rumah tangga yang paling<br />
beruntung adalah rumah tangga yang paling banyak<br />
produktifitas kebaikannya. Uang yang paling barokah<br />
adalah uang yang paling tinggi produktifitasnya, bukan<br />
senang melihat uang kita tercatat di deposito atau<br />
tabungan. Uang sebaiknya ditaruh di BMT. Yang terjadi<br />
adalah multiefek bagi pihak lain, hal ini menjadikan<br />
uang kita barokah. Daripada uang kita disimpan di Bank<br />
kemudian Banknya bangkrut, disimpan di kolong kasur<br />
takut dirampok.</p>
<p>Kaya boleh asal produktif. Boleh mempunyai rumah<br />
banyak asal diniatkan agar barokah demi Allah itu akan<br />
beruntung. Beli tanah seluas-luasnya. Sebagian<br />
diwakafkan, kemudian dibangun masjid. Pahala akan<br />
mengalir untuk kita sampai Yaumil Hisab. Makanya terus<br />
cari uang bukan untuk memperkaya diri tapi<br />
mendistribusikan untuk ummat. Sedekah itu tidak akan<br />
mengurangi harta kita kecuali bertambah. Jadi pikiran<br />
kita bukan akan mendapat apa kita? tapi akan berbuat<br />
apa kita?. Apakah hari ini saya sudah menolong orang,<br />
sudahkah senyum, berapa orang yang saya sapa, berapa<br />
orang yang saya bantu? </p>
<p>Makin banyak menuntut makin capai. Makin kuat kita<br />
menuntut kalau Allah tidak mengijinkan maka tidak akan<br />
terwujud. Kita minta dihormati, malah Allah akan<br />
memperlihatkan kekurangan kita. Kita malah akan<br />
dicaci, hasilnya sakit hati. Orang yang beruntung,<br />
setiap waktu pikirannya produktif mengenai kebaikan.<br />
Selagi hidup lakukanlah, sesudah mati kita tidak akan<br />
bisa. Kalau sudah berbuat nanti Allah yang akan<br />
memberi, itulah namanya rezeki. Orang yang beruntung<br />
adalah orang yang paling produktif kebaikannya.</p>
<p>Yang ketiga rumah tangga atau manusia yang beruntung<br />
itu adalah pikirannya setiap hari memikirkan bagaimana<br />
ia bisa menjadi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran<br />
dan ia pecinta nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.<br />
Setiap hari carilah input nasihat kemana-mana.<br />
Kata-kata yang paling bagus yang kita katakan adalah<br />
meminta saran dan nasihat. Ayah meminta nasihat kepada<br />
anak, niscaya tidak akan kehilangan wibawa. Begitu<br />
pula seorang atasan di kantor.</p>
<p>Kita harus berusaha setiap hari mendapatkan informasi<br />
dan koreksi dari pihak luar, kita tidak akan bisa<br />
menjadi penasihat yang baik sebelum ia menjadi orang<br />
yang bisa dinasihati. Tidak akan bisa kita memberi<br />
nasihat jika kita tidak bisa menerima nasihat. Jangan<br />
pernah membantah, makin sibuk membela diri makin jelas<br />
kelemahan kita. Alasan adalah kelemahan kita. Cara<br />
menjawab kritikan adalah evaluasi dan perbaikan diri.<br />
Mungkin membutuhkan waktu sebulan bahkan setahun.<br />
Nikmatilah nasihat sebagai rezeki dan bukti kesuksesan<br />
hidup. Sayang hidup hanya sekali dan sebentar hanya<br />
untuk menipu diri. Merasa keren di dunia tetapi hina<br />
dihadapan Allah. Merasa pinter padahal bodoh dalam<br />
pandangan Allah.</p>
<p>Mudah-mudahan kita bisa menerapkan tiga hal diatas.<br />
Setiap waktu berlalu tambahlah ilmu agar iman<br />
meningkat, setiap waktu isi dengan menambah amal.<br />
Alhamdulillah</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/129/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/129/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=129&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-mahligai-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggapai Hidup Berkah</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-hidup-berkah/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-hidup-berkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-hidup-berkah/</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Q.S. Al-A&#8217;raaf : 96) Mengapa uang yang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=128&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barokah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.<br />
(Q.S. Al-A&#8217;raaf : 96)</p>
<p>Mengapa uang yang banyak, rumah yang besar, istri yang jelita atau suami yang tampan, ilmu yang luas tidak mengangkat derajat pemiliknya? Malah menghinakannya? bukan kebahagiaan atau ketentraman yang diperoleh melainkan masalah dan malapetaka. Apa sebabnya? sebenarnya penyebabnya sederhana sekali, yakni bahwa semua itu tidak barokah.</p>
<p>Kita tidak boleh cukup senang memiliki sesuatu. Tetapi yang harus lebih kita senangi adalah keberkahan atas segala sesuatu itu.Jadi bukan takut tidak memiliki sesuatu tetapi harus lebih takut sesuatu yang sudah dimiliki tidak membawa berkah.</p>
<p>Kita lihat, misalnya suatu rumah yangga yang penuh dengan percekcokan, sebenarnya harus dicurigai jangan-jangan prosedur, keilmuan, dan etika dalam mengarungi dunia rumah tangga tidak cocok dengan yang disyariatkan Allah.</p>
<p>Maka, kita harus sangat takut dengan hidup yang tidak berkah, yaitu yang tidak bermanfat bagi dunia juga tidak bermanfaat bagi akhirat. Mulailah berhati-hati dengan uang.  Bagaimana supaya uang menjadi berkah? Seperti halnya gelas. Gelas hanya bisa enak digunakan untuk minum kalau terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. jangan sekali-kali kita mencoba untuk tidak jujur. untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah yang memberi. Rizki penjahat datang dari Allah, rizki orang jujur juga datang dari Allah. Bedanya, rizki yang diberikan kepada penjahat tadi haram, tidak berkah, sedangkah yang diberikan kepada orang jujur adalah rizki yang berkah. Sebab sebenarnya meskipun penjahat, kalau Allah tidak memberi, tidak pernah dia dapatkan hasilnya. Banyak pencuri yang gagal, koruptor yang gagal. Semua itu karena kehendak Allah.</p>
<p>Sesudah kita jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hal-hak orang lain yang terampas atau belum tertunaikan, apalagi hak ummat. Na&#8217;udzubillahi min dzalik. </p>
<p>Alkisah, Umar bin Abdul Aziz -semoga Allah meridhainya-, ketika beliau sedang mengerjakan tugas negara malam hari di rumahnya, tiba-tiba anaknya mengetuk pintu kamar. KEmudian beliau membuka pintu dan lampu di kamar tersebut dimatikannya. Si anak lalu bertanya, &#8220;Kenapa lampu engkau matikan , ya Abi?&#8221; lalu beliau menjawab, &#8220;Karena minyak pada lampu ini milik negara. Tidak layak kita membicarakanurusan keluarga dengan menggunakan asilitas negara&#8221;, begitulah Umar, sangat hati-hatinya karena mengharapkan hidupnya mendapat ridha dan berkah dari Allah swt.</p>
<p>Dari cerita yang dikisahkan di atas mengandung berbagai hikmah yang dapat kita teladani.</p>
<p>Menggunakan jabatan dan wewenang yang sangat membawa berkah tiada lain kecuali mengenyampigkan kepentingan dan kesenangan pribadi di atas hak dan kesenangan Allah.</p>
<p>Harta kekayaan yang melimpah yang kita kuasai, yang membawa berkah, tiada lain kecuali harta yang bersih yang tertunaikan kewajiban-kewajibannya baik hak orang lain apalagi hak ummat.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/128/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/128/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=128&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/menggapai-hidup-berkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengikis Sikap Otoriter</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengikis-sikap-otoriter/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengikis-sikap-otoriter/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengikis-sikap-otoriter/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu yang berbahaya diantara penyakit hati yang kita miliki adalah sifat egois, sifat tidak mau kalah, sifat ingin menang sendiri, sifat ingin selalu merasa benar, atau sifat ingin selalu merasa bahwa memang dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah. Sifat seperti ini biasanya banyak menghinggapi orang-orang yang diamanahi kedudukan—seperti para pimpinan dalam skala apapun. Sifat-sifat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=127&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu yang berbahaya diantara penyakit hati yang kita miliki adalah sifat egois, sifat tidak mau kalah, sifat ingin menang sendiri, sifat ingin selalu merasa benar, atau sifat ingin selalu merasa bahwa memang dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah. Sifat seperti ini biasanya banyak menghinggapi orang-orang yang diamanahi kedudukan—seperti para pimpinan dalam skala apapun. </p>
<p>Sifat-sifat tadi ujung-ujungnya akan bermuara pada sikap otoriter, bahkan lebih jauh lagi menjadi seorang diktator (suatu sebutan yang diantaranya dinisbahkan pada pemimpin pemerintahan NAZI Jerman, Adolf Hitler atau pada pemerintahan fasis Italia zaman Benito Musolini, dan juga para pemimpin diktator dunia lainnya).</p>
<p>Pastilah pula kita tidak akan pernah nyaman mendengar kata-kata seperti itu dan kita juga tidak akan pernah suka melihat orang yang otoriter, yang segalanya sepertinya harus dalam genggamannya. Dan hasilnya kita tahu sendiri bahwa orang-orang yang memiliki cap otoriter, orang yang selalu ingin segalanya dalam kekuasaannya, semuanya tunduk dan patuh kepadanya, ujungnya adalah kejatuhan dan kehinaan. </p>
<p>Dari segi namanya saja sudah menimbulkan kesan tidak enak untuk didengar kuping. Simaklah kata, &#8220;otoriter&#8221;, &#8220;egois&#8221;, atau &#8220;menang sendiri&#8221; sepertinya kita menangkap kesan yang kurang sreg dengan kata-kata ini. Apalagi jika melihat langsung orang yang memiliki sifat seperti itu, akan lebih tidak suka lagi. Tapi sayang, sepertinya kita jarang menyisihkan waktu untuk bertanya secara jujur pada diri sendiri, apakah sifat-sifat itu ada pada diri kita atau tidak? Apakah kita ini orang otoriter atau bukan? Maaf-maaf saja kepada para orang tua, guru, manager, pimpinan, direktur, komandan, bos, pokoknya orang-orang yang diamanahi kekuasaan oleh ALLOH, biasanya memiliki kecenderungan sifat seperti ini.</p>
<p>Orang-orang yang otoriter biasanya memiliki versi tersendiri dalam menilai suatu kejadian, versi yang sesuka dia tentunya. Hal ini karena dia selalu memandang lebih dirinya sehingga selalu melihat sesuatu itu kurangnya dan jeleknya saja. Akibatnya sebaik apapun yang dilakukan orang lain selalu saja dari mulutnya meluncur omelan, gerutuan, dan koreksian. Tepatlah baginya pepatah, ‘nila setitik rusak susu sebelanga’. Artinya, karena kesalahan sedikit, jeleklah seluruh kelakuannya. Bagi orang otoriter, biasanya tidak ada pilihan lain selain 100% harus sesuai keinginannya.</p>
<p>Hasil kajian sebuah penelitian menyebutkan bahwa para korban NAPZA (Narkotika, Pshikotropika, dan Zat Aditif lainya) diantaranya adalah mereka yang tumbuh besar dari kalangan orang tua otoriter, keras, mau menang sendiri, tidak mau berkomunikasi, dan tidak ada dialog antar anggota keluarga sehingga si anak menjadi seorang yang bersikap apatis, acuh, bahkan akhirnya si anak melarikan rasa ketertekanannya ini ke NAPZA, naudzhubillah.</p>
<p>Ada pula anak yang selalu bentrok dengan ibunya, karena si ibu begitu menuntut agar dia nurut 100% tanpa reserve. Kondisi ini dibarengi pula dengan penilaian kepada anak yang selalu negatif, akibat yang diungkapkan si ibu selalu sisi-sisi yang salah dari diri si anak. Munculah ungkapan, &#8220;Sedikit-sedikit salah-sedikit-sedikit salah!&#8221;, bahkan saking kesalnya si anak ini berkata, &#8220;Kalau saya ini salah terus, lalu kapan benarnya saya sebagai manusia ini? Kenapa semua yang saya lakukan selalu disalahkan?!&#8221;. Padahal kalau si anak belum mengerti seharusnya orang tua yang lebih dulu mengerti, kalau si anak belum bisa paham seharusnya orang tua yang duluan paham. Tapi karena orang tuanya tidak mengerti dan kurang ilmu, akhirnya tanpa disadari si ibu telah menggiring dan menjerumuskan anaknya ke dunia NAPZA.</p>
<p>Ternyata beginilah, gaya mendidik yang otoriter, yang kaku, dan kurang komunikatif akan menghasilkan anak-anak dalam kondisi tertekan, tidak aman, hingga ujungnya ia lari dari kenyataan yang dihadapinya. Begitupun di kantor-kantor atau perusahaan-perusahaan yang memiliki pimpinan bertife otoriter, pastilah dia akan membuat karyawannya tertekan. Hal ini dapat diamati saat pimpinannya datang ke ruang kerja karyawannya, semua karyawan menjadi tegang, gugup, dan panik. Ini terjadi karena kalau pimpinan datang, maka yang dilihat hanya kesalahan-kesalahan karyawannya saja. Mengapa begini? Mengapa begitu? Ini salah! Itu Salah! Jarang memuji, jarang menghargai, jarang menyapa dengan baik, bahkan wajahnya menyeramkan dan angker karena sangat jarang senyum. Pada akhirnya karyawan disiplinnya menjadi disiplin takut atau disiplin semu, padahal sebenarnya karyawan merasa tertekan, sakit hati, dan bahkan benci ke si pimpinan yang otoriter ini.</p>
<p>Diantara ciri perusahaan dengan kondisi seperti ini adalah ditandai dengan perputaran keluar-masuk karyawan yang sangat tinggi. Semua karyawan dari yang level tertinggi sampai yang level terendah maunya keluar saja. Kalaupun ada yang bertahan, bukan karena senang bekerja di sana, kebanyakan yang bertahan memang karena butuh saja. Butuh uangnya, bukan butuh suasananya.</p>
<p>Oleh sebab itu, hati-hatilah bagi para pemimpin yang otoriter, dan bersiap-siaplah menjadi orang yang tidak disukai karena saking banyaknya orang yang merasa teraniaya. Orang otoriter itu marahnya saja biasanya dilakukan di sembarang tempat, asal dia ketemu dengan yang dimarahinya, marahnya akan meledak-ledak. Padahal kemarahan seperti itu justru akan mempermalukan si pemarah itu sendiri karena orang yang melihatnya akan mengeluarkan penilaian yang negatif kepada dia. Misal, &#8220;Kok marahnya gitu-gitu amat, padahal dia haji, padahal dia pejabat&#8221;. Orang-orang yang marah biasanya omongannya juga jelek sekali, kata-katanya kasar dan menyeramkan. Jadi ketika si pemarah itu marah, yang dimarahi bukannya malah nurut atau bukannya malah simpati, yang terjadi justru orang itu akan mengeluarkan penilaiannya sendiri. Walaupun nampak seperti nunduk atau manggut-manggut, tapi hati tidak pernah bisa dibohongi, tidak pernah bisa dibeli dengan kemarahan. Yang ada justru orang itu akan menjadi sakit hati, dongkol dan merendahkan orang yang marah walaupun mungkin pada saat itu ia tidak berani mengekspresikannya.</p>
<p>Hati-hati nih bagi para pimpinan yang suka marah-marah, terutama orang-orang yang tidak biasa jadi bawahan, kadang-kadang ia agak otoriter. Dalam keluarga militer memang kecenderungan sifat otoriter muncul di keluarga itu akan jauh lebih kuat, karena memang jalur komando ala militer kadangkala diberlakukan oleh pimpinan di keluarga itu dengan konsep militer. Celakanya di kantor dididik dalam gaya hidup ala militer, sayangnya di rumah mendidik dengan gaya yang sama, mendidik dengan gaya ala militer, padahal kondisi kantor dan kondisi rumah berbeda. </p>
<p>Pernah ada sebuah keluarga dengan empat anak, ternyata tiga diantaranya mengalami depresi berat karena sang ayah terlalu kaku dalam memimpin rumah tangga yang pengelolaannya disamakan seperti di kantornya. Jangan heran bila ada orang yang sukses di kantor belum tentu sukses di rumah tangga. Ada yang &#8220;sukses&#8221; di kantor itu karena ia begitu tegasnya sebagai seorang komandan, tapi di rumahnya anak-anak itu beda, karena memang mereka bukanlah militer, mereka tidak dilatih kemiliteran dan terlebih lagi mereka tidak dikasih pangkat.</p>
<p>Perlu diwaspadai pula bahwa biasanya pemimpin yang otoriter akan membuahkan pula bibit–bibit anak didik yang otoriter. Seperti guru yang otoriter, akan menghasilkan anak-anak didik yang otoriter pula, bahkan nakal. Guru yang otoriter di kelas, diantara sifat-sifatnya adalah maunya menang sendiri, kata-katanya tajam, dan suka mempermalukan. Kelakuan ini sebenarnya akan jadi bumerang bagi guru itu sendiri, seperti tidak disukai pelajarannya, tidak disenangi perangainya, dan tentu saja ini suatu hal yang kontra produktif. Apalagi perilaku-perilaku seperti ini sangat bertentangan dengan sikap-sikap yang dituntunkan Rasulullah SAW yang ternyata memiliki pribadi yang sangat indah, santun, dan berakhlak mulia.</p>
<p>Bagi orang yang bagus perangainya, berwajah ceria, serta mulia akhlaknya maka ia laksana mawar yang kuncup di musim semi, dia akan beroleh banyak teman yang membawa kedamaian dan ketentraman, semua pintu terbuka baginya. Sementara orang pemberang, mudah marah, egois, dan otoriter harus menggedor pintu untuk bisa sekedar berbincang dengan seorang kawan. Karenanya, yang terbaik adalah keramahan akhlak dan keceriaan. Rasulullah SAW sendiri adalah seorang yang senantiasa berwajah cerah ceria penuh sungging senyuman, insya ALLOH. ***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=127&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/mengikis-sikap-otoriter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memperindah Hati</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/memperindah-hati/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/memperindah-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:17:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/memperindah-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=126&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang yang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dan harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.</p>
<p>            Akan tetapi, apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.</p>
<p>            Rasulullah SAW pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaannya. Rasulullah SAW tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, sampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya, bahkan hingga kelak datang akhir zaman. Apakah rahasianya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah SAW adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.</p>
<p>            Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama qolbu!&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>            Boleh saja kita memakai segala apapun yang indah-indah. Namun, kalau tidak memiliki hati yang indah,demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun demikian, mereka tetap diberi oleh Allah dunia yang indah dan melimpah.</p>
<p>            Ternyata dunia dan kemewahan bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang-orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian qalbunya.</p>
<p>            Imam Al Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni yang sehat (qolbun shahih), hati yang sakit (qolbun maridh), dan hati yang mati (qolbun mayyit).</p>
<p>Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap yang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.</p>
<p>            Orang yang paling beruntung memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal dia. Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya jika Dia kehendaki.</p>
<p>            Semakin bersih hati, hidupnya akan selalu diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tidak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman AS, tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, &#8220;Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwani a-asykuru am afkuru.&#8221; (QS. An Naml [27] : 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.</p>
<p>            Suatu saat bagi Allah akan menimpakkan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.</p>
<p>            Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambahlah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah baik, sehingga ia tidak pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.</p>
<p>            Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apapun dalam hidup ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak pernah akan berguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegak tegar, dihantam ombak sedahsyat apapun tidak akan pernah roboh. Tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, &#8220;Laa yukalifullahu nafasan illa wus’ahaa.&#8221; (QS. Al Baqarah [2] : 286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Mahasuci Allah dari perbuatan zhalim kepada hamba-hamba-Nya.</p>
<p>            Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti berganti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun jua.</p>
<p>            Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah. Subhanallaah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah qolbunya.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/126/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/126/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/126/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/126/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=126&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/memperindah-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Waktu</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/manajemen-waktu/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/manajemen-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:17:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/manajemen-waktu/</guid>
		<description><![CDATA[Satu desah nafas kita saat menjalani waktu demi waktu, merupakan langkah menuju kubur. Alangkah ruginya kita disaat menjalani sesuatu yang berharga kemudian kita sia-sia kan. Orang yang bodoh adalah jika diberikan modal maka modalnya dihamburkan dengan sia-sia. Begitu juga kita jika sudah diberi modal waktu, kemudian waktunya kita hambur-hamburkan maka kita termasuk orang yang bodoh. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=125&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu desah nafas kita saat menjalani waktu demi waktu, merupakan langkah menuju kubur. Alangkah ruginya kita disaat menjalani sesuatu yang berharga kemudian kita sia-sia kan. Orang yang bodoh adalah jika diberikan modal maka modalnya dihamburkan dengan sia-sia. Begitu juga kita jika sudah diberi modal waktu, kemudian waktunya kita hambur-hamburkan maka kita termasuk orang yang bodoh.</p>
<p>Hikam:<br />
&#8220;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan menjalankan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.&#8221; (QS. Al-Ashr 1-3)</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.&#8221; (HR. Ahmad)</p>
<p>Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencarikebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan mempetakan, mana yang wajib, mana yang sunah dan mana yang mubah.</p>
<p>Ketenangan tidak harus dengan diam tapi ketenangan bisa kita dapatkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan sholat dan dzikir. Sekecil apapun perbuatan Rasulullah, bebas dari kesia-siaan, efektif dan penuh makna.<br />
Ramadahan ini adalah wahana yang paling tepat bagi diri kita untuk memacu meningkatkan kualitas pemahaman kita terhadap kebenaran sehingga iman kita bertambah, meningkatkan kualitas amal-amal kita sehingga menjadi produktif, meningkatkan kualitas akhlak kita sehingga menjadi suri tauladan dan meningkatkan kualitas kesabaran kita dalam menetapi kebenaran. (imm)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/125/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/125/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=125&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/manajemen-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/lupakan-jasa-dan-kebaikan-diri/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/lupakan-jasa-dan-kebaikan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/lupakan-jasa-dan-kebaikan-diri/</guid>
		<description><![CDATA[Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati. Ketahuilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=124&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.</p>
<p>Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.</p>
<p>Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.</p>
<p>Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, seberulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.</p>
<p>Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.</p>
<p>Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.</p>
<p>Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.</p>
<p>Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.</p>
<p>Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.</p>
<p>Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?</p>
<p>Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.</p>
<p>Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.</p>
<p>Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/124/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/124/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=124&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/lupakan-jasa-dan-kebaikan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kunci Hidup Sukses</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kunci-hidup-sukses/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kunci-hidup-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kunci-hidup-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu&#8230;&#8221; (Q. S Ali Imran (3) : 160) Bagaimana kita memahami pengertian hidup sukses? Dari mana harus memulainya ketika kita ingin segera diperjuangkan? Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=123&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu&#8230;&#8221; (Q. S Ali Imran (3) : 160)</p>
<p>Bagaimana kita memahami pengertian hidup sukses? Dari mana harus memulainya ketika kita ingin segera diperjuangkan? Tampaknya tidak terlalu salah bila ada orang yang telah berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi, bahkan lulusan luar negeri, lalu menganggap dirinya orang sukses. Mungkin juga seseorang yang gagal dalam menempuh jalur pendidikan formal belasan tahun lalu, tetapi saat ini berani menepuk dada karena yakin bahwa dirinya telah mencapai sukses. Mengapa demikian? Karena, ia telah memilih dunia wirausaha, lalu berusaha keras tanpa mengenal lelah, sehingga mewujudlah segala buah jerih payahnya itu dalam belasan perusahaan besar yang menguntungkan.</p>
<p>Seorang ayah dihari tuanya tersenyum puas karena telah berhasil mengayuh bahtera rumah tangga yang tentram dan bahagia, sementara anak anaknya telah ia antar ke gerbang cakrawala keberhasilan hidup yang mandiri. Seorang kiai atau mubaligh juga berusaha mensyukuri kesuksesan hidupnya ketika jutaan umat telah menjadi jamaahnya yang setia dan telah menjadikannya sebagai panutan, sementara pesantrennya selalu dipenuh sesaki ribuan santri. Pendek kata, adalah hak setiap orang untuk menentukan sendiri dari sudut pandang mana ia melihat kesuksesan hidup. Akan tetapi, dari sudut pandang manakah seyogyanya seorang muslim dapat menilik dirinya sebagai orang yang telah meraih hidup sukses dalam urusan dunianya?</p>
<p>Membangun Fondasi</p>
<p>Kalau kita hendak membangun rumah, maka yang perlu terlebih dahulu dibuat dan diperkokoh adalah fondasinya. Karena, fondasi yang tidak kuat sudah dapat dipastikan akan membuat bangunan cepat ambruk kendati dinding dan atapnya dibuat sekuat dan sebagus apapun. Sering terjadi menimpa sebuah perusahaan, misalnya yang asalnya memiliki kinerja yang baik, sehingga maju pesat, tetapi ternyata ditengah jalan rontok. Padahal, perusahaan tersebut tinggal satu dua langkah lagi menjelang sukses. Mengapa bisa demikian? ternyata faktor penyebabnya adalah karena didalamnya merajalela ketidakjujuran, penipuan, intrik dan aneka kezhaliman lainnya. </p>
<p>Tak jarang pula terjadi sebuah keluarga tampak berhasil membina rumah tangga dan berkecukupan dalam hal materi. Sang suami sukses meniti karir dikantornya, sang isteri pandai bergaul ditengah masyarakat, sementara anak-anaknya pun berhasil menempuh jenjang studi hingga ke perguruan tinggi, bahkan yang sudah bekerjapun beroleh posisi yang bagus. Namun apa yang terjadi kemudian?<br />
Suatu ketika hancurlah keutuhan rumah tangganya itu karena beberapa faktor yang mungkin mental mereka tidak sempat dipersiapkan sejak sebelumnya untuk menghadapinya. Suami menjadi lupa diri karena harta, gelar, pangkat dan kedudukannya, sehingga tergelincir mengabaikan kesetiaannya kepada keluarga. Isteripun menjadi lupa akan posisinya sendiri, terjebak dalam prasangka, mudah iri terhadap sesamanya dan bahkan menjadi pendorong suami dalam berbagai perilaku licik dan curang. Anak-anakpun tidak lagi menemukan ketenangan karena sehari-hari menonton keteladanan yang buruk dan menyantap harta yang tidak berkah.</p>
<p>Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merintis sesuatu secara baik? Alangkah indah dan mengesankan kalau kita meyakini satu hal, bahwa tiada kesuksesan yang sesungguhnya, kecuali kalau Allah Azza wa Jalla menolong segala urusan kita. Dengan kata lain apabila kita merindukan dapat meraih tangga kesuksesan, maka segala aspek yang berkaitan dengan dimensi sukses itu sendiri harus disandarkan pada satu prinsip, yakni sukses dengan dan karena pertolongan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan fondasi yang tidak bisa tidak harus diperkokoh sebelum kita membangun dan menegakkan mernara gading kesuksesan.</p>
<p>Sunnatullah dan Inayatullah</p>
<p>Terjadinya sesoang bisa mencapai sukses atau terhindar dari sesuatu yang tidak diharapkannya, ternyata amat bergantung pada dua hal yakni sunnatullah dan inayatullah. Sunatullah artinya sunnah-sunnah Allah yang mewujud berupa hukum alam yang terjadinya menghendaki proses sebab akibat, sehingga membuka peluang bagi perekayasaan oleh perbuatan manusia. Seorang mahasiswa ingin menyelesaikan studinya tepat waktu dan dengan predikat memuaskan. Keinginan itu bisa tercapai apabila ia bertekad untuk bersungguh-sungguh dalam belajarnya, mempersiapkan fisik dan pikirannya dengan sebaik-baiknya, lalu meningkatkan kuantitas dan kualitas belajarnya sedemikian rupa, sehingga melebihi kadar dan cara belajar yang dilakukan rekan-rekannya. Dalam konteks sunnatullah, sangat mungkin ia bisa meraih apa yang dicita-citakannya itu.<br />
Akan tetapi, ada bis yang terjatuh ke jurang dan menewaskan seluruh penumpangnya, tetapi seorang bayi selamat tanpa sedikitpun terluka. Seorang anak kecil yang terjatuh dari gedung lantai ketujuh ternyata tidak apa-apa, padahal secara logika terjatuh dari lantai dua saja ia bisa tewas. Sebaliknya, mahasiswa yang telah bersungguh-sungguh berikhtiar tadi, bisa saja gagal total hanya karena Allah menakdirkan ia sakit parah menjelang masa ujian akhir studinya, misalnya. Segala yang mustahil menurut akal manusia sama sekali tidak ada yang mustahil bila inayatullah atau pertolongan Allah telah turun.</p>
<p>Demikian pula kalau kita berbisnis hanya mengandalkan ikhtiar akal dan kemampuan saja, maka sangat mungkin akan beroleh sukses karena toh telah menetapi prasyarat sunnatullah. Akan tetapi, bukankah rencana manusia tidak mesti selalu sama dengan rencana Allah. Dan adakah manusia yang mengetahui persis apa yang menjadi rencana Nya atas manusia? Boleh saja kita berjuang habis-habisan karena dengan begitu orang kafirpun toh beroleh kesuksesan. Akan tetapi, kalau ternyata Dia menghendaki lain lantas kita mau apa? mau kecewa? kecewa sama sekali tidak mengubah apapun. Lagipula, kecewa yang timbul dihati tiada lain karena kita amat menginginkan rencana Allah itu selalu sama dengan rencana kita. Padahal Dialah penentu segala kejadian karena hanya Dia yang Maha Mengetahui hikmah dibalik segala kejadian.</p>
<p>Rekayasa Diri</p>
<p>Apa kuncinya? Kuncinya adalah kalau kita menginginkan hidup sukses di dunia, maka janganlah hanya sibuk merekayasa diri dan keadaan dalam rangka ikhtiar dhahir semata, tetapi juga rekayasalah diri kita supaya menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Ikhtiar dhahir akan menghadapkan kita pada dua pilihan, yakni tercapainya apa yang kita dambakan &#8211; karena faktor sunnatullah tadi &#8211; namun juga tidak mustahil akan berujung pada kegagalan kalau Allah menghendaki lain.<br />
Lain halnya kalau ikhtiar dhahir itu diseiringkan dengan ikhtiar bathin.</p>
<p>Mengawalinya dengan dasar niat yang benar dan ikhlas semata mata demi ibadah kepada Allah. Berikhtiar dengan cara yang benar, kesungguhan yang tinggi, ilmu yang tepat sesuai yang diperlukan, jujur, lurus, tidak suka menganiaya orang lain dan tidak mudah berputus asa. Senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Nya semata, seraya menepis sama sekali dari berharap kepada makhluk. Memohon dengan segenap hati kepada Nya agar bisa sekiranya apa-apa yang tengah diikhtiarkan itu bisa membawa maslahat bagi dirinya mapun bagi orang lain, kiranya Dia berkenan menolong memudahkan segala urusan kita. Dan tidak lupa menyerahkan sepenuhnya segala hasil akhir kepada Dia Dzat Maha Penentu segala kejadian. Bila Allah sudah menolong, maka siapa yang bisa menghalangi pertolongan-Nya? Walaupun bergabung jin dan manusia untuk menghalangi pertolongan yang diturunkan Allah atas seorang hamba Nya sekali-kali tidak akan pernah terhalang karena Dia memang berkewajiban menolong hamba-hambaNya yang beriman.</p>
<p>&#8220;Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu. Jika Allah membiarkan kamu<br />
(tidak memberikan pertolongan) maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal&#8221; (QS Ali Imran (3) : 160).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/123/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/123/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=123&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kunci-hidup-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Menjaga Lisan</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjaga-lisan/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjaga-lisan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjaga-lisan/</guid>
		<description><![CDATA[Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput dari pendengaran Allah. Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali pasti memakan waktu. Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali dengan sangat pasti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang sangat mampu memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=122&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan luput dari pendengaran Allah. Tiada satu patah katapun yang diucapkan kecuali pasti memakan waktu. Tiada satu patah katapun yang kita ucapkan kecuali dengan sangat pasti harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Maka, sebaik-baik dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang sangat mampu memperhitungkan dan memperhatikan setiap kata yang diucapkannya. Sungguh, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan setiap kata-kata yang diucapkannya, alangkah sangat beruntungnya orang yang menahan diri dari kesia-siaan berkata dan menggantinya dengan berdzikir kepada Allah. </p>
<p>Berkata sia-sia membuang waktu sedangkan berpikir membuka pintu hikmah. Maka, alangkah beruntungnya orang yang kuasa menahan lisannya dan menggantinya dengan berdzikir. Berkata sia-sia mengundang bala, berdzikir kepada Allah mengundang rakhmat. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar serta berdzikir kepada Allah azza wa Jalla (HR. Turmudzi). </p>
<p>Setiap manusia diberi modal oleh Allah dalam mengarungi kehidupan ini. Modalnya adalah waktu, dan seberuntung-beruntungnya manusia adalah orang yang memanfaatkan waktunya untuk keuntungan dunia dan akhiratnya, sedangkan sebodoh-bodohnya manusia adalah orang yang menghambur-hamburkan modalnya (waktu) tanpa guna. </p>
<p>Setiap kali kita berbicara pasti menggunakan modal kita, yaitu waktu. Maka, sebenarnya kemuliaan dan kehormatan itu dapat dilihat dari apa yang diucapkannya. Allah SWT berfirman :<br />
&#8220;Amat sangat beruntung, bahagia, sukses, orang yang khusu&#8217; dalam sholatnya, dan orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh menahan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia.&#8221; (QS Al Mu&#8217;minun 23: 1- 3), subhanallah. </p>
<p>Sahabat-sahabat sekalian, salah satu ciri martabat keislaman seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana ia berjuang keras untuk menhindarkan dirinya dari kesia-siaan. Maka semakin kita larut dalam kesia-siaan maka, akan semakin tampak keburukan martabat keislaman kita dan semakin akrab dengan bala bencana, yang selanjutnya hati pun akan keras membatu dan akan lalai dari kebenaran. Rasulullah sendiri dengan tegas melarang kita banyak bicara yang sia-sia.<br />
&#8220;Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara selain berdzikir kepada Allah, sesungguhnya memperbanyak perkataan tanpa dzikir kepada Allah akan mengeraskan hari, dan sejauh-jauh manusia adalah yang hatinya keras.&#8221; (HR. Turmudji) </p>
<p>Kita lihat banyak orang berbicara tapi ternyata tidak mulia dengan kata-katanya. Banyak orang berkata tanpa bisa menjaga diri, padahal kata-kata yang terucapkan harus selalu dipertanggung-jawabkan, yang siapa tahu akan menyeretnya ke dalam kesulitan. Sebelum berkata, kita yang menawan kata-kata, tapi sesudah kata terucapkan kitalah yang ditawan kata-kata kita.<br />
Rasulullah bersabda : &#8221; Barangsiapa memperbanyak perkataan, maka akan jatuh dirinya. Maka barangsiapa jatuh dirinya, maka akan banyak dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, maka nerakalah tempatnya&#8221;. (HR. Abu Hatim). </p>
<p>Dari Sahl bin Sa&#8217;ad as Saidi, dia berkata:<br />
&#8220;Barang siapa menjamin bagiku apa yang ada diantara dua tulang rahangnya (lidah) dan yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), niscaya akan aku jamin surga baginya.&#8221;(HR. Bukhari). </p>
<p>Dalam hadits lain Rasulullah bersabada;<br />
&#8220;Barangsiap menjaga dari kejahatan qabqabnya, dzabdzabnya, dan laglagnya, niscaya ia akan terjaga dari kejahatan seluruhnya.&#8221;(HR. Ad Dailami) Yang dimaksud qabqab adalah perut, Dzaabdzab adalah kemaluan, dan Laqlaq adalah lidah. </p>
<p>Maka tampaknya adalah menjadi wajib bagi siapapun yang ingin membersihkan hatinya, mengangkat derajatnya dalam pandangan Allah Ajjaa Wa Jallaa, ingin hidup lebih ringan terhindar dari bala bencana, untuk bersungguh-sungguh menjaga lisannya. Aktivitas berbicara bukanlah perkara panjang atau pendeknya, tapi berbicara adalah perkara yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan-Nya. </p>
<p>Ada sebuah kisah, suatu waktu ada seseorang bertanya tentang suatu tempat yang ternyata tempat tersebut adalah tempat mangkal &#8220;wanita tuna susila&#8221;. &#8220;Dimana sih tempat x ?&#8221; Lalu si orang yang ditanya menunjuk ke arah suatu tempat dan hanya dengan &#8220;Tuh !&#8221;, lalu si penanya datang ke sana dan naudzubillah dia berbuat maksiat, di pulang, lalu dia sebarkan lagi kepada teman-temannya, lalu berbondong-bondong orang ke sana, berganti hari, minggu, dan tahun. Maka setiap ada orang yang bermaksiat di sana, orang yang menunjukkan itu memikul dosanya, padahal dia hanya berkata : &#8220;Tuh !&#8221;, cuman tiga huruf. Setiap hari orang berzina di sana, maka pikul tuh dosanya, karena dia telah memberi jalan bagi orang lain untuk bermaksiat dengan menunjukkan tempatnya. </p>
<p>Jadi waspada, dengan lidah, menggerakkannya memang mudah, tidap perlu pakai tenaga besar, tidak perlu pakai biaya mahal, tapi bencana bisa datang kepada kita. Berbicara itu baik, tapi diam jauh lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu BERKATA BENAR.<br />
&#8220;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam !&#8221; (HR. Bukhari Muslim). </p>
<p>Sebab lisanlah yang banyak memasukkan kita ke neraka. Rasulullah bersabda :<br />
&#8220;Kebanyakan yang memasukkan ke neraka adalah dua lobang, yaitu : mulut dan fardji (kemaluan)&#8221; (HR Turmudji dan Imam Ahmad). Sedangkan Imam Hasan berkata bahwa, &#8220;Tidak akan berarti agama seseorang bagi orang yang tidak menjaga lisannya&#8221;. </p>
<p>: bahwa melanjutkan, Beliau &#8220;Baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya&#8221;. Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya, yaitu : </p>
<p>1. Berkatalah dengan Perkataan yang Benar<br />
Kalau kita ingin berbicara dengan benar, maka pastikan bahwa pembicaraan kita bersih dari bohong, bersih dari dusta. Kata-kata kita ini harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jangan pernah mau berkata apapun yang kita sendiri tidak yakin dengan apa yang kita katakan. Jangan berusaha berkata-kata semata-mata agar orang terkesima, terpesona, suka, karena semuanya tidak akan menolong kita. Perkataan kita yakin dengan seyakin-yakinnya haruslah dapat dipertanggungjawabkan. </p>
<p>Bohong, dusta, sama sekali tidak akan menolong diri kita ini, karena kedustaan mutlak diketahui oleh Alloh dan sangat mudah bagi ALlah membeberkan segala kebohongan dan kedustaan kita. </p>
<p>Dusta tidak akan mengangkat derajat, bahkan sebaliknya kalau Allah membeberkan kebohongan kita, kedustaan kita, maka, kita akan menjadi orang yang tidak berharga sedikitpun. Untuk dapat orang percaya pada kita tidak bisa dibeli dengan uang, tidak bisa dibayar dengan harta, sekali tampak bahwa kita pendusta, pembohong, tukang tipu, maka akan butuh waktu yang sangat lama untuk mengembalikan kepercayaan orang pada kita. </p>
<p>Dusta, bohong, hanya membuat hidup jadi sempit. Camkan, bahwa semakin banyak kita berbohong, semakin sering kita berdusta, maka kita telah membuat penjara, yang membuat kita selau takut dusta kita terbuka, bahkan selanjutnya kita akan berusaha untuk membuat dusta baru, bohong baru untuk menutupi kebohongan yang telah kita lakukan. </p>
<p>Beranilah hidup tampil dengan apa adanya, biarlah kita tampil begini adanya. Kenapa harus berdusta, lebih baik kita tidak diterima, karena kita sudah mengatakan apa adanya daripada kita diterima karena mendustainya. Jangan berat untuk tampil apa adanya. Daripada kita sibuk merekayasa agar rekayasa kata, sangat pasti tidak akan menolong sedikitpun &#8220;yu izzumantasyaa wa tudzillu man tasya&#8221; Yang mengangkat derajat bukan kebohongan, bukan rekayasa kita, tapi Allah saja, dan sebaliknya yang menghinakan juga Allah. </p>
<p>Cegahlah dusta walau sekecil apapun, kecuali tentunya bohong yang dibenarkan oleh syariat. Misalnya, bohong dalam rangka bersiasat kepada musuh, bohong ringan dengan maksud untuk mendamaikan orang-orang yang bersengketa demi kebaikan. Bohong istri kepada suami atau sebaliknya dengan maksud untuk menyembunyikan kejelekan, bohong untuk membahagiakan dengan cara yang sah dan benar, tetapi bukan bohong untuk menyembunyikan aib dan kesalahan. </p>
<p>Sahabat-sahabat sekalian, Berpikirlah sebelum berbicara. Jangan pernah biarkan terlontar dari lisan ini sesuatu yang kita sendiri meragukannya. Apalagi dengan sengaja kita berkata dusta, naudzubillah. Demi Allah, Allah Maha Mendengar, tahu persis segala nita di balik kata yang kita ucapkan. Kedustaan kita hanya masalah waktu saja bagi Allah untuk membeberkannya, walau mati-matian kita menutupinya. Maka, pastikan setiap pembicaraan kita untuk tidak ada dusta, walau sedikitpun. </p>
<p>Firman-Nya,<br />
&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar&#8221;. (QS Al Baqarah:263) Cukuplah ayat ini sebagai dalil bagi hamba-hamba-Nya untuk selalu menyampaikan kebenaran. </p>
<p>Selalulah mohon kepada Allah agar lisan ini dituntun dan dilindungi sehingga terhindar dari perkataan yang tidak benar. </p>
<p>2. Berkatalah sesuai tempatnya<br />
&#8220;Liqulli maqaam maqaal walikulli maqaal maqaam&#8221; Artinya, &#8220;Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula.&#8221; </p>
<p>Tidak setiap kata sesuai di setiap tempat, sebaliknya tidak setiap tempat sesuai dengan perkataan yang dibutuhkan. Hati-hati sebelum kita bicara, harus kita ukur siapa yang diajak bicara. Berbicara dengan anak kecil tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan orang tua. Berbicara dengan remaja tentu akan jauh beda dengan ketika berbicara dengan guru kita. Orang yang tidak terampil untuk membaca situasi, walau niatnya benar, hasilnya bisa jadi kurang benar. </p>
<p>Lihatlah misalnya, ketika kita berbincang dengan ponakan yang masih kecil, betapa kita akan berusaha menyesuaikan diri dengan dunianya, gerakan tangan kita, raut muka kita. Hal ini karena dia tidak akan mengerti kalau kita menggunakan gaya bahasa orang tua. Tapi tidak mungkin kita memperlakukan guru kita dengan cara yang sama seperti kala kita berbicara kepada keponakan kita. </p>
<p>Oleh karena itu, niat untuk berdakwah dengan mengetahui dalil-dalil Quran, memahami dan mengetahui banyak hadist, belumlah cukup. Sebab kalau kita berbicara tanpa cara yang tepat, misalnya dengan mengobral dalil, menunjukkan banyaknya hafalan saja, tidaklah cukup. </p>
<p>Dalam situasi orang berkumpul pasti punya kondisi mental yang berbeda, ada orang yang sedang gembira, yang tentu saja akan berbeda daya tangkapnya dengan yang sedang nestapa. Ada orang yang sedang menikmati kesuksesannya, dan tentu saja akan berbeda dengan orang yang sedang dilanda masalah dalam hidupnya. Oleh karena itu orang yang sehat berbeda kemampuan menangkap idenya, dengan orang yang sedang sakit, orang yang sedang segar bugar, ceria berbeda kemampuan memahaminya dengan orang sudah letih lahir batinnya. Maka seseorang pembicara terbaik tidak cukup hanya berbica benar, tapi juga harus sangat bisa memilih situasi kapan dia berbicara. </p>
<p>Mengapa banyak nasehat orang tua yang tidak didengar oleh anaknya yang masih remaja? Saya khawatir orang tua merasa benar dengan apa yang dikatakannya, tapi tidak benar dalam membaca situasi dan kondisi remaja yang sedang diajak bicara, yang notabene kondisinya sedang labil. Memang aneh kita ini ketika anak masih kecil, orang tua akan berusaha beraktivitas, bersikap, dan berbicara agar dapat dipahami oleh si kecil, tetapi menjelang remaja, pada saat perpindahan usia, perpindahan masa, ia tidak berusaha beradaptasi dengan kondisi anaknya. maka disinilah kita perlu ilmu. Sebab dengan ilmu yang memadai setiap orang dapat berwibawa di depan anak-anaknya. </p>
<p>Subhaanallah,<br />
Ada banyak cara dalam berkomunikasi, dan berbahagialah jikalau kita diberi keterampilan oleh Allah untuk berbicara sesuai dengan kondisi dan tempatnya. Kita berdialog dengan petani, tentu saja berbeda dialognya dengan seorang eksekutif. Berada di lingkungan santri yang fasih bahasa Arab, tentu saja berbeda kalau kita harus berdialog dengan orang di pasar yang tidak mengerti bahasa Arab. Seorang pendakwah misalnya, kalau orangnya tidak arif, ia akan sibuk mengobral dalil, mengobral kata-kata, walau tentu saja tidak semuanya salah, tapi apalah artinya jika kita meletakkan sesuatu tidak sesuai tempatnya. </p>
<p>Pernah terjadi suatu ketika Umar bin Khathab bertemu dengan Abu Hurairah, &#8220;Mau pergi kemana engkau, hei Abu Hurairah?&#8221; Tanya Umar<br />
&#8220;Aku mau ke pasar, akan aku umumkan apa yang kudengar dari Rasulullah SAW,&#8221; Jawab Abu Hurairah. &#8220;Apa kata Beliau ?&#8221;, Umar bertanya lagi &#8220;Setiap orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka dakhalal Jannah, akan masuk Surga&#8221;. &#8220;Tunggu dulu, wahai sahabat&#8221;, cegah Umar. Umar bin Khathab pun kemudian pergi menemui Rasulullah. &#8220;Yaa Rasulullah, apakah benar engkau bersabda demikian (sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Hurairah)?&#8221; Tanyanya. Dan Rasul pun meng-iya-kan. &#8220;Tetapi, Yaa Rasul, saya keberatan kalau sabdamu itu disebarkan kepada sembarang orang karena dikuatirkan akan salah dalam menafsirkannya.&#8221; </p>
<p>Mendengar keberatan Umar itu, Rasul tercenung, lalu sesaat kemudian bersabda, &#8220;Yaa, aku setuju dengan pendapatmu&#8221;. Abu Hurairah pun lalu dilarang untuk mengumumkannya di pasar. </p>
<p>Demikianlah, perkataannya benar, sesuai dengan kenyataan. Akan tetapi, karena dikuatirkan akan salah penafsiran orang yang mendengarnya, karena diucapkan tidak pada tempatnya.<br />
3). Jagalah Kehalusan Tutur Kata<br />
Orang yang lisannya bermutu haruslah berkemampuan memperhalus dan menjaga kata-katanya tidak menjadi duri atau tidak bagai pisau silet yang siap melukai orang lain. Betapa banyak kata-kata yang keluar yang rasa-rasanya ketika mengeluarkannya begitu gampang, begitu enak, tapi yang mendengar malah sebaliknya, hatinya tercabik-cabik, tersayat-sayat perasaannya, begitu perih dan luka tertancap dihatinya. Seakan memberi nasehat, tapi bagi yang mendengar apakah merasa dinasehati atau malah merasa dizhalimi. </p>
<p>Hati-hati, ibu kepada anak, suami kepada istri, istri kepada suami, guru kepad murid, atasan kepada bawahan. Kadang kelihatannya seperti sedang memberi nasehat tetapi sesungguhnya kalau tidak hati-hati dalam memilih kata, justru kita sedang mengumbar duri-duri pisau &#8216;cutter&#8217; yang tajam mengiris. </p>
<p>Rasulullah bersabda, &#8220;Jiwa seorang mukmin bukanlah pencela, pengutuk, pembuat perbuatan keji dan berlidah kotor&#8221; (HR. Turmudji dan Ibnu Mas&#8217;ud). </p>
<p>Bahkan bagi orang kafir sekalipun, Nabi melarang mencelanya. Dikisahkan bahwa ketika beberapa orang kafir terbunuh dalam perang Badar, Nabi bersabda :<br />
&#8220;Janganlah kamu memaki mereka, dari apa yang kamu katakan, dan kamu menyakiti orang-orang yang hidup. Ketahuilah bahwa kekotoran lidah itu tercela&#8221; (HR. An Nasai) </p>
<p>Sahabat-sahabat kalau kita berbuat salah, kita begitu rindu orang lain bersifat bijak kepada kita dengan memberi maaf. Kala kita tak sengaja memecahkan piring atau melakukan kesalahan sehingga TV rusak atau kita naik motor agak lalai sehingga menabrak atau masuk got. Maka apa yang kita inginkan ? Yang kita inginkan dari orang lain adalah dia dapat bijaksana kepada kita. &#8220;Innaalillaahi wa innaailaihi raaji&#8217;uun&#8221; &#8220;Lain kali lebih hati-hati, jadikan ini pelajaran yang baik, bertaubatlah&#8221;. Demikian kata-kata bijak yang kita harapkan. Sebab sangat pasti akan selalu ada kesempatan kita untuk berbuat kesalahan. </p>
<p>Dikala itu, jika orang menyikapi dengan baik, kita diberi semangat untuk bertaubat, semangat untuk mempertanggungjawabkan, kita tidak dicela, kita tidak dipermalukan, maka yang terjadi adalah semangat kita untuk mempertanggungjawabkannya menjadi lebih besar. </p>
<p>Bandingkan dengan kalau kita melakukan suatu kesalahan, lalu orang lain marah kepada kita, &#8220;Diam disini, ini perhatikan ! Dasar anak dungu, tidak hati-hati, begitu sering membuat kesalahan, kemarin ini, sekarang itu. Ini adalah kelakuan yang sangat menyebalkan, dia pengacau di tempat kita, dia adalah orang yang paling merugikan&#8221;. Bayangkan perasaan kita, yang terjadi adalah merasa dipermalukan, merasa dicabik-cabik, merasa dihantam, merasa diremukkan, harga diri kita benar-benar diinjak-injak. Saya kira kata-kata itu tidak akan masuk ke dalam kalbu, kecuali dendam yang akan merasuk. </p>
<p>Diriwayatkan bahwa suatu waktu, seorang Arab Badwi bertemu Rasulullah SAW, dan Rasulullah berkata : &#8220;Engkau harus bertakwa kepada Allah, Jika seseorang membikin malu padamu, dengan sesuatu yang diketahuinya padamu, maka janganlah memberi malu dia dengan sesuatu yang engkau ketahui padanya. Niscaya akan celaka padanya dan pahalanya padamu. Dan janganlah engkau memaki sesuatu !&#8221; (HR. Bukhari-Muslim) </p>
<p>Dalam Hadist lain Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Bahwa yang pertama-tama diberitahukan Tuhan kepadaku dan dilarang aku daripadanya sesudah penyembahan berhala dan minum khamar, ialah mencaci orang&#8221;. (HR. Ibu Abi Dunya). </p>
<p>Sungguh kalau kita tidak suka dipermalukan, tidak suka disakiti, tidak suka direndahkan, mengapa kata-kata kita sering mempermalukan, merendahkan, menghinakan orang lain? Padahal, sebaik-baiknya kata adalah yang mengoreksi, yang dapat meraba perasaan diri sendiri dan orang lain kalau misalnya kita diperlakukan seperti itu. &#8220;Duh, dengan kata-kata ini dia terluka atau tidak, dengan kata-kata ini dia tersakiti atau tidak ?&#8221; </p>
<p>Manfaat tidak kalau misalnya ada yang shaum, lalu ditanya shaum atau tidak, makin kita tanya, &#8220;Saudara shaum atau tidak?&#8221; Padahal dia sedang berusaha menyembunyikan amalnya, terpaksa harus bicara. Kalau menjawab &#8220;Ya, Saya Shaum&#8221;, terbersit peluang untuk riya. Kalau menjawab, &#8220;Tidak&#8221;, jadi dosa karena berdusta. Kalau diam saja takut disangka sombong. Maka, kita telah menyusahkan orang gara-gara pertanyaan kita. </p>
<p>Saudara-saudara sekalian, sudahlah jangan banyak tanya yang kira-kira tidak bermanfaat bahkan menjadi beban bagi yang ditanya. Jangan pernah berkata yang membuat orang lain jadi susah, kita juga tidak mau disusahkan oleh perkataan orang lain. Kalau disuruh memilih, mending diajak bicara yang kasar atau yang halus ? Tentu kita akan memilih berbicara dengan bahasa yang halus. </p>
<p>Firmannya, &#8220;Hai orang-orang yang beriman! Janganlah segolongan laki-laki menghina segolongan yang lain, boleh jadi (mereka yang dihina itu) lebih baik dari mereka (yang menghina). Dan janganlah segolongan perempuan (menghina) golongan perempuan yang lainnya, boleh jadi (yang dihina) lebih baik dari mereka (yang menghina).&#8221; (QS. Al Hujurat 49:11). </p>
<p>Rasulullah juga bersabda,<br />
&#8220;Demi Allah Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang&#8221;. (HR. Abu Daud dan Turmudji). Jangan pula menasehatkan apa yang tidak pernah kita lakukan, sebab firman-Nya: &#8220;Hai, orang-orang yang beriman, mengapa engkau berkata-kata sesuatu yang tidak engkau perbuat. Sesungguhnya amat besar kemurkaan Allah terhadap orang yang berkata tapi tidak melakukannya.&#8221; (QS. Ash Shaff 61: 2-3) </p>
<p>Maka, mulai sekarang, jagalah lisan kita, banyaklah berbuat daripada berkata, atau banyaklah berkata dengan perbuatan daripada banyak berkata tanpa ada perbuatan. Kita tidak akan terhormat oleh banyak berbicara sia-sia, kehormatan kita adalah dengan berkata benar atau diam. </p>
<p>Gelas yang kosong hanya diisi dengan air, tapi mata air yang melimpah airnya bisa mengisi wadah apapun. Artinya, orang yang kosong harga dirinya hanya ingin dihargai, tapi orang yang melimpah harga dirinya akan senang menghargai orang lain. </p>
<p>Pastikan gaya bicara kita jangan merendahkan orang lain, karena diri kita ingin dihargai, hal itu justru menunjukkan kerendahan diri kita. Karena mulut itu bagai moncong teko, hanya mengeluarkan isi teko, di dalam kopi keluar kopi, di dalam teh keluar teh, di dalam bening keluar bening. Maka berbahagialah bagi yang ucapannya keluar dari mulutnya bagai untaian kalung mutiara, yang niscaya ia akan merasakan betapa indah dan berkilau indahnya. Kalau pembicaraan bagai untaian perhiasan harganya, insyaallah hatinya akan berharga pula. Tapi kalau mulutnya bagai keranjang sampah tumpah, maka hatinya akan tak jauh pula. </p>
<p>Untuk dapat menjaga lisan menjadi terjaga dan bermutu, ada empat syaratnya yaitu:<br />
1. Berkatalah dengan perkataan yang benar<br />
2. Berkatalah sesuai tempatnya<br />
3. Jagalah kehalusan tutur kata<br />
4. Berkatalah yang bermanfaat<br />
Pastikan setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita itu full manfaat. Rasulullah bersabda, &#8220;Diantara tanda kebaikan akhlak manusia muslim adalah meninggalkan apa yang tidak perlu&#8221; (HR. Turmudji). </p>
<p>Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, Nabi SAQ kehilangan Ka&#8217;ab bin Ajrah. Lalu beliau tanyakan kemana Ka&#8217;ab sekarang. Mereka menjawab: &#8220;Beliau sakit, yaa Rasulullah&#8221;. Lalu Nabi keluar berjalan, sehingga sampai pada Ka&#8217;ab, Lalu beliau bersabda : &#8220;Gembiralah wahai Ka&#8217;ab&#8221;, Lalu Nabi bertanya : &#8220;Siapakah wanita yang bersumpah ini kepada Allah ?&#8221; Ka&#8217;ab menjawab : &#8220;Ibuku, wahai Rasulullah&#8221; Lalu Nabi menyahut : &#8220;Apakah yang diberitahukan kepada engkau wahai Ummu Ka&#8217;ab ?&#8221; Ibunya Ka&#8217;ab menjawab : &#8220;Mungkin Ka&#8217;ab berkata perkataan yang tidak perlu atau tidak berkata yang diperlukan&#8221;. (HR. Ibnu Abi Dunya) </p>
<p>Maka, satu-satunya pilihan adalah berkata yang penuh manfaat. Ketika tiba-tiba hujan, &#8220;Huuh, hujan !&#8221; Lho, apa untungnya berkata begitu, apa dengan berkata begitu hujannya jadi berhenti ? Tidak kan&#8230;? Hujan adalah pekerjaan Allah, suka-suka Allah mau ngasih hujan atau tidak, yang pasti setiap perbuatan Allah itu bermanfaat buat orang beriman. Apa salahnya Allah menurunkan hujan, dulu waktu kemarau panjang mengeluh, di kasih hujan masih mengeluh juga. </p>
<p>Suatu ketika pernah duduk dengan seorang ulama yang terpelihara, &#8220;Aduh, jam tangan ketinggalan !&#8221; Tiba-tiba saya ingat, bahwa jam saya ketinggalan. &#8220;Kenapa pakai aduh ? Lebih bermanfaat kalau mengucapkan innaalillaahi, lupa nih ketinggalan jam, mudah-mudahan dapat diambil di waktu yang tepat&#8221;. </p>
<p>Sahabat-sahabat sekalian, jangan bunyi kecuali yang bermanfaat. Jangan pula mencela perbuatan Allah. Panas, dingin, hujan atau kemarau, dengan panas yang membakar sekalipun, jangan mencela. Atau tiba-tiba petir mengelegar, kenapa menjerit &#8230;.? </p>
<p>Bukannya malah menyebut nama Allah. Atau tiba-tiba menginjak bangkai, &#8220;Hiii bangkai anjing sialan !&#8221; Kenapa harus mencaci, tidak usah mencela, beristighfarlah, sebab Allah memberikan kejadian, sangat pasti ada hikmahnya. </p>
<p>4. Berkatalah yang Bermanfaat<br />
Dikisahkan bahwa suatu waktu Nabi Isa, as, melihat bangkai seekor anjing, ketika sahabat-sahabatnya berpaling karena jijik, maka Nabi Isa justru melihat susunan gigi putihnya yang tertata indah, </p>
<p>&#8220;Anjing itu giginya rapi sekali yaa&#8230;!&#8221;, Teman-temannya keheranan. &#8220;Yaa, Rabbii (Guru), kenapa Paduka berkata begitu, bangkai anjing itu kan sangat menjijikkan. Bahkan Paduka sendiri kalau dihina, dicaci, diremehkan dengan kata-kata jelek, kata-kata Tuan selalu baik ?&#8221; </p>
<p>Nabi Isa Menjawab:<br />
&#8220;Karena setiap orang memang akan mengeluarkan apa yang dimilikinya. Kalau pikiran dan perasaannya jelek, maka yang keluar adalah yang jelek-jelek juga&#8221;, Demikian jawabnya. Makin banyak kepeleset lidah, makin banyak masalah dan dosanya, makin banyak dosa, nerakalah tempatnya. Maka, &#8220;Fal yakul khairan au liyasmut&#8221;, &#8220;Berkatalah yang benar atau diam&#8221;, Demikian Sabda Nabi. Jangan sekali-kali mencela makanan yang sudah tersaji di depan mata. &#8220;Huuh, ini mah terlalu asin !&#8221; Kalau nggak suka kasikan kepada makhluk lain yang lebih membutuhkan. Ada makanan terlalu dingin, yaa hangatkan ! Jangan mengeluh, jangan mencela. Sebab sudah dikasih makan saja oleh Allah sudah untung. </p>
<p>Mencela atau mengutuk bukanlah akhlak seorang muslim. Rasulullah bersabda, &#8220;Orang Mukmin itu bukan type pengutuk&#8221; (HR. Turmudji). Dalam Hadits lain Nabi SAW bersabda, &#8220;Janganlah Kamu kutuk-mengutuk dengan kutukan ALLAH, dengan kemarahan-NYa, dan dengan neraka Jahannam&#8221;. (HR. Abu Dawud dan Turmudji) </p>
<p>Pernah suatu waktu ketika di tanah suci, ada seorang jemaah haji ikhwan yang suatu waktu ia mendapat jatah makanannya dingin dan keras. Maka, mengeluhlah dia, &#8220;Huuh, susah di Arab ini, masa nasi aja sebegini keras.&#8221; Gerutunya tanpa henti. Seseorang kemudian menasehatinya, &#8220;Pak, kalau Bapak semakin mengeluh, mencela, Bapak akan semakin sengsara, menderita. Karena yang memberi makan adalah ALLAH, ada kalanya Allah menguji dengan makanan yang enak dan lezat, ada kalanya pula Allah menguji dengan makanan yang tidak enak atau mungkin dengan makanan yang sudah basi. Kenapa ketika sekali ini makanan kita tidak enak, lalu kita sibuk mencaci, mencela, yang tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan justru mengundang murka Allah &#8221; </p>
<p>Padahal di Mekkah lamanya 40 hari, 40 x 3 = 120 kali, dan makan yang enggak enak ini cuma satu kali, maka tidak adik dia, zhalim dia. Sahabat-sahabat sekalian berhentilah mencela. Lihat orang berbibir tebal, sudahlah jangan mencela, toh bibik kita dan bibir dia, ALLAH juga yang menciptakan. Seseorang yang matanya sipit, tidak berarti kita harus mengatakan &#8220;betapa sempitnya dunia bagi dia&#8221;. Dia sama sekali tidak memiliki matanya, Allah-lah yang menciptakannya. Apakah kita akan mencela ciptaan Allah ? </p>
<p>Padahal olok-olok, penghinaan, dan pencelaan akan menyulitkan kita di akhirat kelak. Nabi SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang memperolok-olok manusia itu, dibukakan pintu surga bagi salah seorang dari mereka. Lalu dikatakan kepadanya, &#8220;Mari, marilah!&#8221; Lalu orang yang memperolok-olokan itu datang dengan kesusahan dan kegundahannya. Ketika ia datang ke pintu surga itu, lalu pintu surga itu terkunci buat dia. Maka terus menerus seperti yang demikian, sehingga pintu itu dibukakan bagi orang tersebut, lalu dikatakan kepadanya. &#8220;Mari, Marilah!&#8221;, Maka ia tidak datang lagi ke pintu itu&#8221;. (HR. Ibnu Abi Dunya). </p>
<p>Maka pastikan, dari mulut kita tidak keluar kata-kata penghinaan, pencelaan, olok-olok, dan yang sejenisnya. Pokoknya kalau enggak perlu-perlu amat, jangan bunyi. Wah, kalau begitu nanti dunia ini sepi dong&#8230;<br />
Lho bicara itu tidak selalu harus pakai mulut, senyum ramah, duduk dengan penuh perhatian, santun, ini sudah bicara. Cara menunjuk, cara bersila, bagaimana kita bersikap terhadap pembicaraan orang lain. Itu semua sudah merupakan ribuan kata, bahkan jutaan kata.<br />
Ingatlah bahwa syarat istiqomahnya hati di jalan ALLAH adalah istiqomahnya lisan. Sabda Nabi SAW, bahwa &#8220;Tidak akan istiqomah iman seseorang sebelum istiqamah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sebelum istiqamah lisannya&#8221;. (HR. Ahmad) Subhanallah, maka marilah mulai sekarang kita menjaga dan mengelola lisan kita dengan hanya digunakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=122&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjaga-lisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Menjadi Unggul</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjadi-unggul/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjadi-unggul/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:14:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjadi-unggul/</guid>
		<description><![CDATA[eramuslim &#8211; Alloh Ajja wa Jalla adalah Dzat yang Maha Sempurna segala-gala-Nya, Maha luas tak terbatas pengetahuan-Nya. Sangat pasti hanya Alloh-lah Dzat yang Maha Memiliki segala keagungan, Kemuliaan dan Keunggulan. Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai oleh-Nya potensi dan bakat untuk unggul. Lebih beruntung lagi bagi siapapun yang di karuniai kemampuan untuk mengoptimalkan potensi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=121&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>eramuslim &#8211; Alloh Ajja wa Jalla adalah Dzat yang Maha Sempurna segala-gala-Nya, Maha luas tak terbatas pengetahuan-Nya. Sangat pasti hanya Alloh-lah Dzat yang Maha Memiliki segala keagungan, Kemuliaan dan Keunggulan. Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai oleh-Nya potensi dan bakat untuk unggul. Lebih beruntung lagi bagi siapapun yang di karuniai kemampuan untuk mengoptimalkan potensi dan bakatnya sehingga menjadi manusia unggul dan prestatif. Namun, betapa banyak pula orang yang cukup potensial tetapi tidak menjadi unggul. Betapa banyak orang yang memiliki bakat terpendam dan tetap &#8220;terpendam&#8221;, tidak tergali karena tidak tahu ilmu untuk mengoptimalkannya.Padahal tiap orang pada dasarnya memiliki potensi untuk unggul, termasuk kita. Berikut ini beberapa kiat menjadi pribadi unggul dan prestatif.</p>
<p>1. PERCAYA DIRI<br />
Bagi orang yang ingin memacu percepatan dirinya, maka tidak bisa tidak waktu adalah kuncinya. Sebab sesungguhnya waktu adalah hidup kita. Orang bodoh adalah orang yang diberi modal hidup berupa waktu kemudian ia sia-siakan. Ada tiga kelompok orang yang menggunakan waktu, yaitu : Orang sukses, yaitu orang yang menggunakan waktu dengan optimal, salah satu cirinya adalah ia melakukan sesuatu hal yang tidak di minati oleh orang gagal.Orang malang, yaitu orang yang hari-harinya diisi dengan kekecewaan dan selalu memulai sesuatu pada keesokan harinya.Orang hebat, yaitu orang yang bersedia melakukan sesuatu sekarang juga. Bagi orang hebat tidak ada hari esok, dia berkata bahwa membuang waktu bukan saja kejahatan, tetapi suatu pembunuhan yang kejam.Karena mengetahui dan menyadari akan pentingnya waktu berarti memahami pula nilai hidup dan kehidupan ini. Oleh karena itu, yang pertama dan utama yang harus dilakukan untuk menjadi pribadi unggul adalah pantang menyia-nyiakan waktu. Kita tidak boleh melakukan sesuatu dengan sia-sia, sebab semua yang dilakukan sangat pasti memakan waktu, sedangkan waktu itu sangat berharga. Tidak mungkin kita melakukan yang sia-sia (mubadzir), bukankah perbuatan mubadzir itu adalah perbuatan syetan, Alloh SWT berfirman : &#8220;sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan, dan syetan itu sangat ingkar pada Tuhan-Nya&#8221;. (QS. Al Israa (17:27)</p>
<p>Lihatlah hidup keseharian kita, seringkali secara sadar atau tidak telah melalaikan waktu. Anehnya tidak jarang setengah mati kita menjaga harta kita supaya tidak hilang dicuri orang, tapi jarang menjaga waktu agar tidak dicuri dengan hal-hal yang sia-sia. Berapa banyak kita ngobrol sia-sia yang berarti dia telah mencuri waktu kita. Berapa banya waktu kita untuk nonton TV yang tidak semua acaranya mendidik kita agar lebih berhasil guna dan berdaya guna, dan TV telah mencuri waktu kita. Maka mulai sekarang pantanglah kita menyia-nyiakan waktu tanpa faedah. Alloh berfirman: &#8220;Sesungguhnya berintunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusu dalam sholatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna&#8221;. Artinya sholat yang terpelihara mutunya, khusu namanya, yang dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar menjaga kualitas mutu sholatnya, itulah yang beruntung.Jadi pastikan waktu yang digunakan hanya diisi untuk memacu dan menempa kemampuan diri. Artinya setiap jam, setiap hari, setiap minggu yang kita lalui harus selalu benar-benar full manfaat dan lebih yang orang lain lakukan. </p>
<p>2.SISTEM YANG KONDUSIF<br />
Sistem yang kita masuki itu akan sangat mempengaruhi percepatan diri kita, salah dalam memilih sistem, memilih lingkungan maka akibatnyapun akan segera kita rasakan. Maka barang siapa ingin memiliki percepatan diri yang baik untuk menjadi unggul, maka harus bisa mencari sistem dan lingkungan atau teman-teman yang berkualitas. Sistem yang memiliki keunggulan dari standar biasa, lingkungan yang memuliakan perilaku yang terjaga, teman yang memiliki kehalusan budi pekerti yang tinggi. Apa bila kita memasuki dalam sistem seperti ini, maka imbasnya pada diri kita jua. Percepatan kita akan terkontrol untuk menjadi unggul dan bermutu. Lembaga atau organisasi yang memiliki sistem yang unggul, banyak yang telah membuktikan dirinya tampil dalam kehidupan bermasyarakat lebih maju dan lebih bermutu.<br />
Maka kalau ingin memiliki pribadi yang unggul, tangguh dan prestatif, pastikan untuk tidak salah dalam memilih pergaulan. Sebab salah dalam memilih pergaulan lingkungan, salah dalam memilih sistem, berarti telah salah dalam memilih kesuksesan. Ingatlah pepatah &#8220;Bergaul dengan tukang minyak wangi akan kebawa wangi, bergaul dengan pandai besi akan kebawa bau bakaran&#8221;.</p>
<p>3. BERDAYA SAING POSITIF<br />
Dalam setiap kesempatan dan lingkungan, kita harus memiliki naluri berdaya saing positif. Kalau tidak, pasti kita akan berat menghadapi hidup ini. Majalah &#8220;Panji&#8221; pernah memberitakan bahwa beberapa tahun lagi Universitas-Universitas luar negri, seperti Oxford, Harvard, UCLA, Stanford dan Universitas beken lainya, akan masuk ke Indonesia. Kenyataan ini akan membuat miris beberapa perguruan tinggi. Sikap ini nampaknya dipicu oleh kenyataan adanya kesenjangan kualitas Perguruan Tinggi dalam negri dan Perguruan Tinggi luar negri. </p>
<p>Bagi Perguruan Tinggi yang tidak memiliki mental berdaya saing positif, akan membuat mereka panik, kalang kabut karena takut kesaingan. Melihat kenyataan yang sama atau lebih darinya, maka akan dianggap sebuah ancaman yang seolah-olah akan menghancurkanya.Namun bagi yang memiliki mental bersaing yang positif, hal itu justru akan di tanggapi dengan senang hati, seolah-olah dia mendapatkan sparing partner yang akan memacunya lebih berkualitas lagi. Sebab mereka yang tidak diberi pesaing, kadang-kadang tidak membuat mereka maju. </p>
<p>Pepatah mengatakan bahwa &#8220;lebih baik menjadi juara dua di antara juara umum, dari pada jadi juara satu dari yang lemah, atau juara utama dari yang bodoh&#8221;. Karena yang terpenting bukan jadi juaranya, tapi bagai mana caranya kita memompa kemampuan optimal dalam menjalani kehidupan. Lebih baik juara dua di antara juara dari pada juara umum di antara yang kalah. Sahabat-sahabat sekalian, kita janganlah sebel jika melihat orang lain lebih baik dari kita, karena orang-orang yang suka iri hati, sebel dongkol kepada prestasi orang lain, biasanya tidak akan unggul. Berani bersaing secara sehat dan positif adalah kunci menuju gerbang kesuksesan.</p>
<p>4. MAMPU BERSINERGI (BERJAMAAH).<br />
Steven R. Covey, mencantumkan sinergi sebagai salah satu dari tujuh kebiasaan yang efektif. Dalam bersinergi atau berjamaah akan tercermin perbedaan nilai tiap individu, yang kalau kita mampu mengelolanya akan melahirkan team work yang solid, dimana nilai hasilnya akan jauh lebih besar, lebih dahsyat atau lebih unggul dibandingkan kalau dilakukan sendiri-sendiri. Makin besar kekuatan sinerginya dalam setiap kali berinteraksi dengan yang lain, maka akan semakin besar pula kemampuan yang di hasilkan , itulah diantara kunci menjadi unggul. Jadi kalau ingin menjadi unggul, nikmati hidup berjamaah, karena seorang yang pintar jika bertemu orang yang pintar akan bertambah pintar. Untuk itu berjamaahlah, tapi berjamaah yang positif, karena berjamaah itu ada kalanya saling melemahkan dan saling melumpuhkan. Maka, lakukanlah branchmarking (studi banding) ke institusi lain sebagai perbandingan, dan ini sangat penting. Hal ini agar pemikiran kita terus berkembang tidak mandek atau di situ-situ terus.. Oleh karena itu jangan pernah meremehkan orang lain, setiap bertemu orang harus jadi sarana perubahan dan penambahan wawasan kita. Jangan merasa pintar sendiri, merasa yang terbaik, yang terbagus, maka sebenarnya kita telah menjadi yang terbloon.</p>
<p>5. MANAJEMEN KALBU<br />
Tidak bisa tidak, bagi pribadi yang ingin unggul dan prestatif maka dia harus mampu mengendalikan suasana hatinya, karena orang itu tergantung suasana hatinya. Kalau hatinya merasa gembira, maka dia gembira. Kalau hatinya sedang sedih maka sedih pula dirinya, kalau hatinya lagi dongkol, ngambek , maka seperti itulah dirinya. Semua tergantung pada suasana hatinya, maka bagi orang yang tidak mampu mengendalikan/mengelola hatinya akan merasa repot dalam menghadapi hidup ini. Rosululloh SAW bersabda &#8220;ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya, tetapi bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama hati&#8221;,(HR. Bukhari – Muslim).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=121&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-menjadi-unggul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Membangun Kepercayaan</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-membangun-kepercayaan/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-membangun-kepercayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-membangun-kepercayaan/</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan menjadi seorang Rasul beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat kota Mekkah dengan gelar al-Amin yaitu orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun sesudahnya tidak pernah ada lagi. Sungguh dahsyat pengaruh suatu kepercayaan dan luar biasa pentingnya untuk kesuksesan karir kehidupan di dunia maupun di akhirat, jah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=120&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan menjadi seorang Rasul  beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat kota Mekkah dengan gelar al-Amin yaitu orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun sesudahnya tidak pernah ada lagi.</p>
<p>            Sungguh dahsyat pengaruh suatu kepercayaan dan luar biasa pentingnya untuk kesuksesan karir kehidupan di dunia maupun di akhirat, jah melampaui modal harta benda, kedudukan, jabatan, atau ilmu sekalipun. Ketika kepercayaan sudah sirna di hati orang lain, sulit sekali ntuk tumbuh, walaupun dengan berjuta janji atau membayar dengan harta sebanyak  apapun, jikalau kepercayaan di hati orang sudah hilang maka perasaan yang muncul selalu mencurigai dan rasa tidak percaya diri akan selalu membayang dan membekas.</p>
<p>            Berikut ini sekelumit uraian yang isya Allah akan menumbuhkan dan memperkuat kepercayaan seseorang.</p>
<p>A. Kejujuran yang terbuktu dan teruji</p>
<p>            Kejujuran adalah perilaku kunci yang sangat efektif untuk membangun kepercayaan (kredibilitas), begitu pula bila sebaliknya dapat menghancurkan kehidupan seseorang.</p>
<p>            Biasakanlah selalu jujur dimulai dari hal yang paling sederhana dan kecil sekalipun, walaupun terhadap anak kecil, karena sesunggunya Allah menilai perilaku kita, yakinlah tak akan pernah untung sama sekali dengan ketidakjujuran selain kerugian yang mendera dan menghancurkan, sudah terlalu banyak bukti di sekitar kita untuk dijadikan pelajaran.</p>
<p>Jangan sekali-kali berbohong atau terpancing untuk menambah omongan sehinga menjadi dusta walau dalam gurauan sekalipun. </p>
<p>Jangan pernah mudah membuat janji, pastikan setiap janji yang diucapkan sudah diperhitungkan matang-matang, dan berusaha keraslah untuk memenuhi janji. </p>
<p>Tepat waktulah dalam segala hal, jangan terlambat atau gemar menunda-nunda atau mengakhirkan. </p>
<p>Biasakanlah memiliki data dan fakta yang jelas, dan bersikaplah terbuka. </p>
<p>Milikilah kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri, dan segera perbaiki diri begitu ditemukan kesalahan serta bertanggungjawablah dengan sungguh-sungguh dan tulus. </p>
<p>Jangan pernah patah semangat bila didapati masa lalu kita pernah atau banyak keidakjujuran. </p>
<p>B. Cakap</p>
<p>            Komponen kedua yang tak kalah pentingnya adalah kehandalan dan kecakapan kita dalam melaksanakan tugas. Walaupun sangat dikenal dan teruji kejujurannya tapi kalau dalam melaksanakan tugas sering berbuat lalai dan kesalahan maka hal ini pun akan merontokkan kredibilitas.</p>
<p>Kunci utamanya adalah secara sadar kita harus selalu belajar, melatih diri, mengembangkan kemampuan, wawasan serta keterampilan kita secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga selalu memiliki kesiapan yang memadai untuk melaksanakan tugas. </p>
<p>Awalilah selalu dengan membuat perencanaan yang baikdan persiapan yang matang, gagal dalam merencanakan sama dengan merenacnakan kegagalan. </p>
<p>Jangan lupa selalu check and recheck, tak boleh kita melakukan sesuatu tanpa cek ulang, sangat banyak peluang kesalahan atau kegagalan yang terselamatkan dengan sikap yang selalu mengadakan pengecekan ulang. </p>
<p>Laksanakan segala sesuatu dengan kesungguhan, sikap yang hati-hati dan cermat, jangan anggap remeh kelalaian dan kecerobohan karena semua itu biang kesalahan dan kegagalan. </p>
<p>Selalu sempatkan untuk evaluasi dari setiap tahapan apapun yang kita lakukan, percayalah merenung sejenak untuk mengevaluasi membuat karya kita akan semakin bermutu. </p>
<p>Nikmatilah dengan menyempurnakan apa yang bisa dilakukan, jangan pernah puas dengan setengah-setengah, jangan pula puas dengan 90%, kalau kita bisa menyempurnakannya, mengapa tidak? </p>
<p>C. Inovatif</p>
<p>            Segala sesuatu yang ada selalu berubah, di dunia ini tidak ada sesuatu apapun yang tidak berubah, satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri, oleh karena itu siapa pun yang tidak menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan maka dia akan tergilas kalah oleh perubahan tersebut.</p>
<p>            Maka jelaslah sudah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah bahwa orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi karena berarti tak ada kemajuan dan tetinggal oleh perubahan, orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dianggap orang yang celaka, karena berarti akan tertinggal jauh dab sulit mengejar, satu-satunya pilihan bagi orang yang beruntung adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, berarti harus ada penambahan sesuatu yang bermanfaat, inilah sikap perubahan yang diharapkan selalu terjadi pada seorang muslim, sehingga tidak akan pernah tertinggal, dia selalu antisipatif terhadap perubahan, dan selalu siap menyikapi perubahan.</p>
<p>            Berikut ini beberapa anjuran agar kita dapat selalu mengembangkan kemanpuan kreatif kita:</p>
<p>Banyak membaca dan menulis. </p>
<p>Banyak berdiskusi dan bertanya. </p>
<p>Banyak melihat (mengadakan studi banding). </p>
<p>banyak merenung (tafakur). </p>
<p>Banyak berbuat dan mencoba. </p>
<p>Banyak beribadah dan berdo&#8217;a. </p>
<p>            Mudah-mudahan kegighan diri kita, menjaga agar karir hidup ini menjadi orang bersih, terbuka, ujur terpercaya yang dilakukan dengan tulus karena Allah semata. Selamat berjuang saudaraku sekalian, cukuplah Allah sebagai satu-satunya tujuan, pelindung, tumpuan harapan dan satu-satunya penolong kita semua.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishshawab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/120/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/120/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=120&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kiat-membangun-kepercayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan &amp; Kasih Sayang Ibu</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keutamaan-kasih-sayang-ibu/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keutamaan-kasih-sayang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:12:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keutamaan-kasih-sayang-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Hikam: &#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan &#8220;ah&#8221;, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.&#8221; (QS. Al-Isra: 23). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=119&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hikam: &#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan &#8220;ah&#8221;, dan janganlah kamu membentak mereka. Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.&#8221; (QS. Al-Isra: 23).</p>
<p>Dari Abu Hurairah, dia berkata, telah dating kepada Rasulullah saw, seorang laki-laki lalu bertanya:, &#8220;Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ibumu&#8221; dia bertanya lagi, &#8220;Kemudian siapa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ibumu&#8221; dia bertanya lagi, &#8220;Kemudian siapa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ibumu&#8221; dia bertanya lagi, &#8220;Kemudian siapa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Ayahmu&#8221;. (HR Muslim) </p>
<p>Dari isi Hadist terlihat betapa Allah melalui Rasulullah menilai besarnya pengorbanan orang tua kita terutama Ibu. Apa yang sudah ibu berikan kepada anaknya tidak dapat dibandingkan dengan apapun di dunia ini. </p>
<p>Orang tua, terutama ibu harus selalu kita hormati sepanjang hidup kita. Walaupun itu bukan orang tua kita sendiri. Kalau kita menghormati semua orang tua, berarti kita menghormati orang tua kita. Begitu juga bila kita memaki orang tua yang bukan orang tua kandung, maka berarti kita memaki orang tua kita sendiri. </p>
<p>Memuliakan orang tua kita bukan dengan memberinya harta yang berlimpah. Tetapi akhlak yang baik dari anak-anaknya sudah membuat orang tua kita damai dan senang. Harta tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan akhlak yang baik. </p>
<p>Kita sebagai anak harus memohon, berjuang sekuatnya kepada Allah bila orang tua kita belum mendapat hidayah dari Allah. Dan kita harus selalu menerima segala kekurangan orang tua kita dengan lapang dada. (imm)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=119&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keutamaan-kasih-sayang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluh Kesah</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluh-kesah/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluh-kesah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluh-kesah/</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di kota besar semacam Jakarta atau Bandung membutuhkan kekuatan iman dan kekuatan mental. Macet di perjalanan dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu permasalahan yang kadangkala sering kita hadapi. Tak heran bila untuk sebuah perjalanan, kalau kita tidak memakai strategi yang bagus, tidak memakai perencanaan yang matang, maka kemacetan akan benar-benar mencuri waktu begitu lama. Terkadang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=118&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup di kota besar semacam Jakarta atau Bandung membutuhkan kekuatan iman dan kekuatan mental. Macet di perjalanan dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu permasalahan yang kadangkala sering kita hadapi. Tak heran bila untuk sebuah perjalanan, kalau kita tidak memakai strategi yang bagus, tidak memakai perencanaan yang matang, maka kemacetan akan benar-benar mencuri waktu begitu lama. Terkadang bisa berjam-jam di jalan. Kalau saja tidak berusaha untuk bening hati, sepertinya sepanjang jalan yang terjadi hanya dongkol dan marah-marah. &#8220;Aduh , kapan sampainya! Aduh, kok ini lama banget! Aduh, kok macet terus!&#8221; Mungkin ungkapannya seperti itu. Aduh dan aduh.</p>
<p>Padahal kata-kata aduh, kalau hanya tanda keluh kesah, sebetulnya tidak menyelesaikan masalah. Justru kata-kata yang terlontar itu menunjukkan ketidaksabaran kita. Apalagi tiba-tiba di pinggir jalan ada kendaraan lain berhenti seenaknya. Kita boleh kecewa dan melihat ini sebagai sesuatu yang harus diperbaiki. Tetapi, tidak berarti kita harus sengsara dengan marah-marah atau berkeluh kesah. Mata terbeliak dan mulut kadang berucap &#8220;Minggir, dong!&#8221; Mungkin inginnya menghardik seperti itu. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika kita menyapa dengan kata yang lemah lembut, &#8220;Maaf, Pak! Boleh agak ke pinggir sedikit!&#8221; Ungkapan seperti ini nampaknya akan lebih ringan ke dalam hati, dari pada melotot dengan menggunakan otot.</p>
<p>Boleh jadi kalau sudah banyak kedongkolan, selain akan banyak berkeluh kesah, juga akan menjadikan diri lebih emosional. Ini yang paling merugikan. Bagi kita maupun orang lain. Kita harus mengukur kehilangan waktu dalam beberapa menit atau beberapa jam, padahal waktu tersebut sebenarnya dapat menjadi tambahan ilmu dan kemampuan diri kita. Ada baiknya, selama perjalanan lengkapi diri dengan sumber-sumber ilmu, baik berupa kaset ceramah, nasyid, atau kaset murotal Qur’an. Sumber-sumber ini akan menambah percepatan keilmuan kita, disamping akan membuat kita tidak tergoda untuk ber-aduh ria. &#8220;Aduh, terlambat nih! Aduh, sialan kamu! Aduh, ada yang ketinggalan nih!&#8221; Kata-kata seperti ini sebetulnya tidak perlu dikeluarkan! Karena tidak menyelesaikan masalah. Lebih baik kita isi dengan do’a : &#8220;Ya Allah, semoga saya datang tepat waktu, semoga ada jalan keluar dari kemacetan ini&#8221;. Kata-kata ini akan lebih produktif dibandingkan dengan kata &#8220;aduh&#8221;.</p>
<p>Marilah kita meminimalisirkan keluh-kesah seperti ini. Apalagi bagi kita pun ada kenikmatan tersendiri bila kita bicara lebih santun. Kesantunan akan membuat batin kita lebih ringan dari pada berperilaku emosional. Lebih dari itu, kelembutan akan mampu menaklukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Itu sudah bagian dari rumusnya. Karena, kalau orang-orang keras dilawan dengan kekerasan, maka itu akan merasa bagian dari dunianya. Tapi, kalau orang-orang yang bertemperamen keras itu diberi kelembutan yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, Isya Allah mereka akan terbawa lembut juga. Contohnya, orang sekeras Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid bisa jatuh tersengkur menagis oleh lembutnya alunan Al-Qur’an.</p>
<p>Berkeluh kesah seringkali membuat kita terdramatisasi oleh masalah. Seakan-akan rencana dan keinginan kita lebih baik daripada yang terjadi. Padahal, belum tentu. Siapa tahu, di balik kejadian yang mengecewakan menurut kita, ternyata sarat dengan perlindungan Allah dan sarat dengan terkabulnya harapan-harapan kita. Tiap melakukan kekeliruan, kita ditolong Allah dengan memberikan tuntunan-Nya. Tuntunan itu tidak harus dengan terkabulnya keinginan yang kita mohonkan. Bisa jadi terkabulnya do’a itu bertolak belakang dengan yang kita minta. Karena Allah Mahatahu di balik apapun keinginan kita. Baik keinginan jangka pendek, maupun keinginan jangka panjang. Baik kerugian duniawi maupun kerugian ukhrawi. Baik kerugian secara materi maupun secara kerugian mental. Kita tidak bisa mendeteksi secara cermat. Kadang-kadang kita hanya mendeteksinya sesuai dengan keperluan hawa nafsu kita.</p>
<p>Kelihatannya sepele mengaduh ini. Tetapi, itu akan menjadi kualifikasi pengendalian diri kita. Ketahuilah bahwa kualitas seseorang itu tidak diukur dengan sesuatu yang besar-besar, tetapi oleh yang kecil-kecil. Kalau kita ingin melihat kompleks perumahan yang berkualitas, maka kita lihat saja panjang pendek rumput di halamannya. Kalau berkualitas dan terawat dengan baik, maka rumputnya pun akan nampak terawat dengan baik. Marilah kita respon setiap kejadian demi kejadian dengan respon lisan yang positif. Mengapa? Karena setiap respon akan mempengaruhi persepsi kita terhadap masalah yang kita hadapi dan cara kita menyelesaikannya. Lebih dari itu akan berdampak pula kepada orang-orang di sekitar kita. Jadi, sapaan-sapaan, teguran-teguran, komentar-komentar, celetukan-celetukan ini harus benar-benar bernilai produktif. Tidak hanya berarti bagi diri kita, tetapi juga bagi orang di sekitar kita.</p>
<p>Apalagi keluh kesah termasuk penyakit hati, yaitu bentuk ketidaksabaran kita dalam menerima ketentuan dari Allah. Ada hadits qudsi yang menyatakan bahwa &#8220;Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan-Ku, dan tidak sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari hadits qudsi ini, nampaklah bahwa segala apapun yang Allah karuniakan kepada kita, maka kita harus menerimanya dengan ridha. Oleh karenanya, kita tidak perlu banyak mengaduh atau berkeluh kesah. Sedapat mungkin kurangi aduh-mengaduh ini. Jauh akan lebih produktif jikalau kita optimalkan waktu dengan banyak berdo’a dan menambah kualitas keilmuan diri serta terus menyempurnakan ikhtiar di jalan Allah yang diridhai.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=118&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluh-kesah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Amal Jama&#8217;ah</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kekuatan-amal-jamaah/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kekuatan-amal-jamaah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kekuatan-amal-jamaah/</guid>
		<description><![CDATA[Semoga Allah menggolongkan kita semua menjadi orang-orang yang selalu sadar bahwa segala-galanya adalah milik Allah, diri kita milik Allah apapun yang kita inginkan pasti milik Allah. Sehingga tidak ada yang dituju selain Allah. Dialah Allah yang Maha Agung, termasuk pertemuan ini tidak ada yang dituju kecuali semoga kita bisa semakin mengenal keagungan Allah dan semakin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=117&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semoga Allah menggolongkan kita semua menjadi orang-orang yang selalu sadar<br />
bahwa segala-galanya adalah milik Allah, diri kita milik Allah apapun yang<br />
kita inginkan pasti milik Allah. Sehingga tidak ada yang dituju selain Allah.<br />
Dialah Allah yang Maha Agung, termasuk pertemuan ini tidak ada yang dituju<br />
kecuali semoga kita bisa semakin mengenal keagungan Allah dan semakin<br />
mengenal cara agar bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Saudara-saudaraku sekalian&#8230;<br />
Allah mempunyai nama dalam Asmaul Husna Al Jami&#8217;, Allah Maha Menghimpun.<br />
Dalam bahasa Arab apabila ada huruf Arab ja-min-&#8217;ain itu artinya menghimpun.<br />
Sebaik-baiknya perhimpunan merujuk kepada amalan mesjid. &#8220;Hanyalah orang-<br />
orang yang memakmurkan mesjid Allah, yakin kepada Allah, yakin kepada hari<br />
akhir, menegakkan sholat, membayar zakat dan tidak pernah gentar selain<br />
kepada Allah mereka itulah yang diharapkan mendapat petunjuk&#8221;</p>
<p>Sekarang banyak sekali perhimpunan di Indonesia, tapi apakah perhimpunan ini<br />
yang dihimpun Allah dalam kebaikan atau perhimpunan dalam kebathilan. 4<br />
(Empat) amalan perhimpunan mesjid yang diupayakan berhimpun dimanapun lebih<br />
dari 1 orang amalkan amalan ini karena inilah amalan dirumah Allah yaitu : </p>
<p>1. Amalan mesjid perhimpunan itu majlis dzikir<br />
Sepertinya dimanapun kita berhimpun haruslah menjadi majlis dzikir. Mesjid,<br />
sholat, dzikir. Dzikir, baca qur&#8217;an, wirid itu semua mengingat Allah.<br />
Tidaklah berhimpun orang dengan berdzikir mengingat Allah kecuali rahmat<br />
Allah akan datang. Maka perhimpunan apapun harus niatnya untuk Allah karena<br />
Allah membela agama Allah ini menjadi kebaikan. Harusnya rumah itu menjadi<br />
majlis dzikir. Jadikan semuanya menjadi aspek dzikir, Insya Allah aman itu<br />
rumah. Rumah tangga yang begitu banyak ingat kepada Allah, beli barang yang<br />
disukai Allah akan membuat hati ini tentram.</p>
<p>2. Amalan mesjid adalah taklim<br />
Menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu. Jadi apabila amalan mesjid ini dibawa<br />
kerumah, kekantor akan barokah. Apa sebabnya? karena nuansanya tawasaubil<br />
haqqi wa tawasau bissabr (saling berpesan dengan kebenaran dan saling<br />
berpesan dengan kesabaran). Ilmu bisa membuat hati jadi ringan. Maka pastikan<br />
majlis sekecil apapun selain ingat dan niat kepada Allah ilmu kuncinya.<br />
Pokoknya pertemuan tidak menjadi ilmu rugi. Tiap hari tidak nambah ilmu rugi.<br />
Sebaiknya ketemu orang jadi ilmu. Kalau saudara bekerja hanya ingin cari<br />
uang, garong juga kerjanya cari uang hanya beda cara. Kalau saudara bekerja<br />
hanya ingin cari makan, domba juga kerjanya cari makan. Kalau saudara bekerja<br />
hanya ingin mencari gaji, bagaimana kalau mati sebelum gajian?</p>
<p>Kita bekerja mencari Allah. Kalau kita bekerja, jualan, berumah tangga karena<br />
Allah yang dicari maka Allah-lah yang punya apapun yang kita inginkan. Setiap<br />
kali punya uang belikan buku, itu semua incestasi. Tidak apa-apa rumah kita<br />
tidak bagus barang-barangnya yang penting bagus ilmunya. Maka mulai saat ini<br />
saya berharap jamaah yang hadir kalau punya uang penuhi<br />
:<br />
1. hak keluarga<br />
2. hak ibadah<br />
3. hak kesehatan<br />
4. ilmu<br />
baru selebihnya beli barang-barang yang kiranya melengkapi.</p>
<p>3. Dakwah<br />
Setiap berhimpun harus jadi dakwah. Mesjid itu fungsinya dakwah walau 1 ayat,<br />
sampaikan! Pendakwah yang baik alat ukurnya bukan orang lain jadi baik,<br />
pendakwah yang baik adalah orang dengan dakwahnya dirinya makin baik. Saudara<br />
berkumpul disini dan dapat ilmu itu adalah kemurahan Allah kepada saudara.<br />
Mungkin buah sedekah saudara kepada seseorang, mungkin buah doa orang tua<br />
kepada saudara, mungkin munajat anak-anak kepada orang tuanya, jadi saja ilmu<br />
itu sampai. Dakwah harus jadi program di perusahaan kita, dirumah tangga kita<br />
dan dimanapun.. Rugilah hidup cuma sekali tapi tidak menjadi contoh kebaikan.<br />
Usahakan sekuat-kuatnya bila orang melihat diri kita pribadi maupun kelompok,<br />
orang melihat keindahan Islam.</p>
<p>4. Hikmat/Melayani<br />
Inilah sesungguhnya rahasia kesuksesan sebuah majlis yang barokah. Dimana<br />
setiap berkumpul selain membuat ingat kepada Allah, terus berkembang<br />
kemampuannya dengan ilmu, menebarkan dakwahnya dengan contoh-contoh kebaikan<br />
dan yg tidak kalah pentingnya dia melayani yang ada disekitarnya. Sepatutnya<br />
jamaah mesjid itu seperti itu. Harusnya rumah tangga kita atau kelompok kita<br />
adalah yang ingin melayani umat. Bila kita sebagai sales biasanya bila mau<br />
keluar rumah berapa target yang harus didapat, berapa order yang harus masuk,<br />
berapa barang yang harus saya jual, wah itu cenderung stress. Kalau kita<br />
sebagai sales, tiap hari yang dikatakan berapa banyak orang yang berbahagia<br />
dengan kedatangan kita, berapa banyak orang yang bisa saya tolong sepanjang<br />
hari ini, berapa banyak orang yang bisa saya senangkan sepanjang hari ini.<br />
Pikirannya adalah hikmat ke masyarakat.</p>
<p>Apakah orang lain tidak berterima kasih kita rugi, apakah kita tidak diberi<br />
insentif kita rugi? Yang rugi itu tidak menolong orang lain. Rezeki itu tidak<br />
harus satu jalur, memangnya rejeki itu kita yang ngatur? Suka-suka Allah.</p>
<p>Ujian adalah cara Allah mendidik kita. Jadi setiap kali kita<br />
bermajlis/bertemu dalam skala apapun harus ada orang yang terlayani oleh<br />
kita. Sekecil apapun layani. Makin melayani makin dicintai.</p>
<p>Nah saudara-saudara sekalian&#8230;.<br />
Ayo cari uang yang banyak supaya makin banyak kita nolong orang, nyari ilmu<br />
yang banyak supaya banyak ngajarin orang, latihan bela diri yang baik supaya<br />
nanti kalau ada apa-apa bisa nolongin orang. Teruskan kembangkan semua<br />
potensi kita nafkahkan di jalan Allah. Nggak usah rewel nggak usah banyak<br />
omong, Allah lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Indah hidup<br />
ini bila mengingat Allah, sayang bila hidup ini dirusak hanya karena angkara<br />
murka. Oleh karena itu 4 (empat) amalan ini akan menjadi amalan mesjid kita<br />
bawa kerumah kita sehingga bisa jadi seperti rumah Allah, kita bawa ke<br />
perusahaan kita supaya perusahaan kita seperti perusahaan milik Allah. Insya<br />
Allah kalau negara kita seperti ini, barokah..!!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=117&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/kekuatan-amal-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keluarga Kunci Kesuksesan</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluarga-kunci-kesuksesan/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluarga-kunci-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:10:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluarga-kunci-kesuksesan/</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=116&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun<br />
karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah<br />
dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!</p>
<p>Penyebab kegagalan seseorang diantaranya :</p>
<p>Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai<br />
untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan. </p>
<p>Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.<br />
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.</p>
<p>Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:</p>
<p>Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur&#8217;an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.</p>
<p>Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.</p>
<p>Rumah kita harus menjadi &#8220;Rumah Ilmu&#8221; Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.</p>
<p>Rumah harus menjadi &#8220;Rumah pembersih diri&#8221; karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.</p>
<p>Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/116/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/116/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=116&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/keluarga-kunci-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indahnya Hidup Bersahaja</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-hidup-bersahaja/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-hidup-bersahaja/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-hidup-bersahaja/</guid>
		<description><![CDATA[Saudara-saudaraku Sekalian, Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=115&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara-saudaraku Sekalian,<br />
Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.</p>
<p>Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, &#8220;Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya&#8221;.<br />
Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh. Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.</p>
<p>Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis. Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan menjadi begitu.<br />
Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.<br />
Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.</p>
<p>Saudara-saudaraku Sekalian,<br />
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional. Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi<br />
momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah. Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya. Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya<br />
apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya. Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan<br />
yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.</p>
<p>Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji &#8220;Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku&#8221;. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam. Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.<br />
Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.</p>
<p>Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,&#8221;Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada&#8221;, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada. Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.</p>
<p>Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya. Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya&#8217;. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.</p>
<p>Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati. Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional. Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita<br />
binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.<br />
Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.</p>
<p>Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan. Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.<br />
Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya. Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah. Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita,<br />
takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.</p>
<p>Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah. Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.</p>
<p>Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut. Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan,<br />
jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin. Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.</p>
<p>Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.<br />
Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat. Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.</p>
<p>Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.<br />
Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.</p>
<p>Saudara-saudaraku Sekalian,<br />
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang. Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya,<br />
bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif<br />
saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya. </p>
<p>Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.</p>
<p>Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/115/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/115/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=115&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-hidup-bersahaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indahnya Kasih Sayang</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-kasih-sayang/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-kasih-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-kasih-sayang/</guid>
		<description><![CDATA[Mahasuci ALLOH, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=114&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mahasuci ALLOH, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.</p>
<p>Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.</p>
<p>Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebaria menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang ALLOH semayamkan di dalam kalbunya.</p>
<p>Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.</p>
<p>Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, &#8220;ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti.&#8221; (H.R. Muslim).</p>
<p>Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!</p>
<p>Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.</p>
<p>Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.</p>
<p>Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya:<br />
Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?</p>
<p>Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya?</p>
<p>Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!</p>
<p>Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?</p>
<p>Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.</p>
<p>Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?<br />
Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.</p>
<p>Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari ALLOH Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.</p>
<p>Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.</p>
<p>Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.<br />
Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.</p>
<p>Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.</p>
<p>Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.</p>
<p>Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.</p>
<p>Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya ALLOH. *** </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/114/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/114/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=114&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/indahnya-kasih-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ilmu Pembersih Hati</title>
		<link>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/ilmu-pembersih-hati/</link>
		<comments>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/ilmu-pembersih-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Dec 2006 01:07:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>silaturrahim</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/ilmu-pembersih-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebait do&#8217;a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do&#8217;a tersebut berbunyi : Allaahummanfa&#8217;nii bimaa allamtanii wa&#8217;allimnii maa yanfa&#8217;uni wa zidnii ilman maa yanfa&#8217;unii. Dengan do&#8217;a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat. Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=113&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebait do&#8217;a yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunnahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa Jalla sebelum seseorang hendak belajar. do&#8217;a tersebut berbunyi : Allaahummanfa&#8217;nii bimaa allamtanii wa&#8217;allimnii maa yanfa&#8217;uni wa zidnii ilman maa yanfa&#8217;unii. Dengan do&#8217;a ini seorang hamba berharap dikaruniai oleh-Nya ilmu yang bermamfaat.</p>
<p>Apakah hakikat ilmu yang bermamfaat itu? Secara syariat, suatu ilmu disebut bermamfaat apabila mengandung mashlahat &#8211; memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, mamfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla. Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya.</p>
<p>Oleh karena itu, dalam kacamata ma&#8217;rifat, gambaran ilmu yang bermamfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. &#8220;Ilmu yang berguna,&#8221; ungkapnya, &#8220;ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.&#8221; seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut, Imam Malik bin Anas r.a. berkata, &#8220;Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.&#8221;</p>
<p>Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya, &#8220;Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).&#8221; (QS. Al Kahfi [18] : 109).</p>
<p>Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya &#8220;Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.&#8221; (QS. Al Mujadilah [58] : 11). Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun!</p>
<p>Akan tetapi, walaupun hanya &#8220;setetes&#8221; ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik kita kaji sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan mamfaat darinya.</p>
<p>Hal lain yang hendaknya kita kaji dengan seksama adalah bagaimana caranya agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati? Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. &#8220;Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?&#8221; Sang guru menjawab, &#8220;Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.&#8221; Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.</p>
<p>Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta&#8217;lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas. Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati.</p>
<p>Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih diisi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas. Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermamfaat. darimana pun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.</p>
<p>Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermamfaat.</p>
<p>Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi &#8220;tawas&#8221;-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa mamfaat.</p>
<p>Mengapa demikian? Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. Demikian juga bila mendalami ilmu ma&#8217;rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.</p>
<p>Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma&#8217;rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.</p>
<p>Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum&#8217;ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah jua, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita?</p>
<p>Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/silaturrahim.wordpress.com/113/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/silaturrahim.wordpress.com/113/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silaturrahim.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silaturrahim.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silaturrahim.wordpress.com&amp;blog=627837&amp;post=113&amp;subd=silaturrahim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silaturrahim.wordpress.com/2006/12/24/ilmu-pembersih-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7494f488984ca71dde07d52276053b6d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">silaturrahim</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
